Peringatan Maulid Nabi Dan Haul Maulana Syaikh “Jadikan Jakarta Sebagai Kiblat NWDI, NBDI Dan NW

Syiar.Sinar5News.com – Jakarta – Saat ini adalah musim memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai tempat khususnya yang ada di Indonesia. Peringatan maulid Nabi ini dapat dilaksankan di masjid, musholla, pondok pesantren, aula, hotel, lapangan dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta melaksanakan kegiatan maulid Nabi hari ini Senin, 10 Oktober 2022 M. bertepatan 14 Rabiul Awwal 1444 H. dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.

Maulid Nabi di Ponpes NW Jakarta sangat istimewa karena dibarengi dengan haul yang ke-25 wafatnya Al Magfurlah Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Untuk tahun ini haul dilaksanakan cukup secara sederhana, karena mengingat terbatasnya dana, tapi in sya Allah pada tahun-tahun berikutnya akan dilaksanakan semeriah mungkin, demikian harapan kita semua.

Acara diawali dengan pembacaan alfatihah-alfatiah dilanjutkan dengan surat Yasin yang dipimpin oleh Dr. TGH. Miftahuddin, Lc, MA. Semua bacaan tersebut diniatkan pahalanya kepada para donatur, yang mengaqiqah dan para pejuang NW Jakarta yang sudah meninggal dunia. Kemudian dilanjutkan pembacaan zikir dan tahlil yang dipimpin oleh H. Matra salah seorang sesepuh di Kp. Pisangan.

Dilanjutkan dengan pembacaan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang dipimpin oleh Dr. TGH. Muslihan Habib, MA selaku Ketua Umum PW NWDI DKI Jakarta. Dalam pembacaan tarekat ini berlangsung sangat khusyu’, khidmat dan larut dalam lezatnya bertqarrub kepada Allah SWT.

Tarekat Hizib Nadhlatul Wathan adalah salah satu karya Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang sangat monumental. Dikatakan monumental karena muatannya mengandung kalimat-kalimat suci terdiri dari zikir dan doa yang bernilai tinggi diambil dari Al Qur’an, Hadits dan para waliyullah kenamaan yang sudah masyhur di dunia ini.

Adanya tarekat Hizib Nadhlatul Wathan ini menunjukkan tingginya ilmu Maulana Syaikh dibidang spiritual ketauhidan. Dimana tidak semua mampu membuatnya, kecuali bagi mereka yang sudah mencapai derajat kewalian. Maka alangkah beruntungnya kita sebagai nahdhiyyin dan nahdhiyyat menerima warisan tarekat yang sangat besar manfaatnya bagi penebalan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Setelah pembacaan tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dilanjutkan dengan pembacaan kisah maulid Nabi yang dibacakan oleh Ust. M. Husni Haris, S.Sos selaku sekretaris PW NWDI DKI Jakarta. Suaranya sangat lantang, merdu dan lembut membuat hati para jama’ah yang mendengar sangat tersentuh, menambah rasa iman dan kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam. Dalam qisah maulid Nabi ini terbayang betapa mulianya Rasulullah sekaligus betapa besar cintanya kepada umat, rela menderita dan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan dalam menyebarkan dakwah Islam di Makkah pada waktu itu.

Dilanjutkan dengan pembacaan Al Qur’an oleh Qari Zamzami Husen membacakan surat Al Isra ayah 23-30. Suaranya begitu merdu membuat semakin bertambahnya iman dan semakin menyadarkan betapa Al Qur’an itu adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya iman dan Islam.

Selanjutnya acara inti yaitu sambutan sekaligus tausiah yang disampaikan oleh Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ selaku Pimpinan Ponpes NW Jakarta. Dalam tausiahnya disampaikan bagaimana menjawab salam yang benar yaitu waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh bukan waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Kegiatan maulid dan haul ini bertujuan untuk mencari barokah dan mengenang jasa-jasa guru besar kita Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Dengan kita banyak membaca shalawat dalam acara maulid dan acara-acara lainnya, maka Allah akan mengaruniakan keberkahan yang banyak. Demikian juga dengan mengenang jasa-jasa besar Maulana Syaikh, maka kita akan selalu semangat berjuang untuk membela agama dan bangsa.

Ada kisah menarik yang disampaikan pada tahun 1990 ketika beliau pulang ke Lombok bertemu dengan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di pegedengan/tempat tinggalnnya. Maulana Syaikh bertanya kepada TGH. Muhammad Suhaidi, “coba dengar suara paku yang sedang dipukul oleh tukang, kalau dipukul sekaligus maka pakunya akan bengkok. Tetapi kalau dipukul sedikit demi sedikit, maka pakunya akan masuk dengan sempurna”. Maksud dari cerita ini kata Maulana Syaikh kalau kita berjuang tidak bisa sekaligus mesti melalui proses sedikit demi sedikit, sehingga perjuangan itu akan sukses.

Satu lagi ceritanya seperti bebek soang bawahnya besar atasnya kecil, ” jangan sampai NW dan NWDI seperti soang bawahnya doang besar tapi atasnya kecil. Jadi yang benar adlah bawahnya kecil tapi atasnya besar. Artinya NW ini jangan hanya besar di kampung seperti NTB, tetapi harus besar juga di kota seperti Jakarta, sehingga NW benar-benar dikenal oleh seluruh masyarakat di Indonesia”. Demikian Maulana Syaikh memberi perumpamaan yang sangat cerdas.

TGKH. Muhammad Suhaidi melanjutkan pesan Maulana Syaikh yang sering disampaikan harapannya agar NW Jakarta dijadikan pusat dan kiblat penyebarannya dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah, karena Jakarta menjadi barometer dari semua provinsi yang ada. “Jika NW dipusatkan  di Jakarta, maka akan sangat mudah menyebarluaskan panji-panji NW berasaskan iman dan taqwa sesuai paham aswaja yang mengutamakan kelembutan, kebersamaan, persatuan dan kekompakan. Jangan sekali-kali memaksakan kehendak dan menjadikan tangan kita  berlumuran darah untuk menyebarkan NW, ini adalah tindakan yang sangat keji dan biadab” Demikian pesan Maulana Syaikh.

“Jangan dengar kiri kanan, lurus saja, perbaiki niat dan ikuti apa yang pernah disampaikan oleh Maulana Syaikh, demikian yang disampaikan oleh Umi Rahmatullah istri dari Maulana Syaikh pada waktu TGKH. Muhammad Suhaidi berkunjung di Gedeng (kediaman) Maulana Syaikh di Pancor, Lombok Timur, NTB.

Suksesnya acara Maulid Nabi dan haul Maulana Syaikh tahun ini karena dukungan para donatur, tokoh-tokoh NWDI dan yang tak kalah pentingnya Media sinarLIMA meliput secara langsung dari awal, sehingga acara ini dapat tersebar ke berbagai penjuru. (Amr/Red)

Jakarta, 14 Rabiul Awwal 1444 H/10 Oktober 2022 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami