CERPEN INSPIRATIF (19) MASA LALU MAJIDI : ILUSI OLEH ABDUL QUDDUS AL MAJIDI (SISWA KELAS X SMA NW JAKARTA)

isah Saat Aku masih SD di Rumah

Malam ini, aku sedang tidak enak badan, entah mengapa. Padahal kemarin sehat-sehat saja. Aku sedang istirahat di rumahku bersama adikku, yang menemani. Hanya sedikit hangat saja kok, badanku. Sedikit pilek juga.

“Majidi, oh majidi… ” Sapa seseorang dari luar rumah, aku mendengarnya di kasur sambil berselimut.
Tak lama kemudian, ibuku menghampiri orang itu yang ada di luar rumah.
“Majidinya ada gak bu?” Kudengar samar dari dalam kamarku.
“Ada. Mau jenguk ya? ” Tanya ibu.
“Iya bu.”
Kemudian, terdengar beberapa langkah kaki yang mendekati kamarku. Lalu, pintu kamarku dibuka oleh ibu.

“Majidi, ini ada temenmu nih.” Kata ibuku.
Aku pun sedikit membuka selimut yang menyelimuti tubuhku. Sehingga hanya terlihat wajahku saja.
“Assalamu’alaikum, majidi. Ini saya bawa kue bolu buat kamu.” Kata orang itu. Ternyata orang itu adalah Sakih teman baikku.
Aku bangun dari kasur, menyambutnya.
“Iya Kih. Terima Kasih, udah jenguk saya. Uhhuk-Uhhukk!!” Kataku masih terbatuk-batuk.

Selanjutnya, ibuku datang ke kamarku. Sambil memotong kue bolu itu, menjadi 8 bagian sama besar. Lalu ibu pun keluar dari kamarku, untuk mengobrol dengan para tetangga.
“Saya cicip satu ya majidi.” Kata Sakih. Dia memakai baju kemeja rapih dengan celana jeans. Sudah seperti mau kondangan saja.
“Nih buat majidi satu.” Ia memberiku kue bolu satu bagian. Aku mengambilnya, dan memakannya perlahan.
“Enak Kih, kuenya.” Jawabku. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.

Setelah 5 menit makan, dia bilang ingin menunjukkan sesuatu yang keren. Aku sedikit penasaran ia mau menunjukkan apa.
“Coba majidi pilih, kue yang menurut majidi paling besar dan enak.” Kata Sakih, sembari menyodorkan 2 potongan kue kepadaku. Aku heran, mana kue bolunya? Kenapa hanya tersisa dua potong saja?
“Hei, Sakih. Mana kue saya? Kok cuma segini? ” Heran ku
“Ini, udah saya pisahin di piring yang saya bawa ini. Gak saya makan kok. Entar piringnya balikin ya? ”
“Iya dah.” Aku mengiyakkan saja.
“Sekarang majidi pilih. Mana potongan kue yang paling besar yang ada di tempat bolu? Kue yang depan, atau kue yang belakangnya? ”
Kulihat, ada dua kue yang dijejerkan. Tanpa berpikir panjang, aku menunjuk satu potong bolu, di belakang potongan bolu yang pertama.

“Paling besar yang ini lah, Kih. Di urutan bolu yang kedua.”
“Salah.” Kata dia.
“Lah? ” Aku bingung. Padahal, sudah jelas potongan bolu yang kedua lebih besar dari potongan bolu yang pertama.
“Majidi gak tahu? Coba majidi tumpuk 2 bolu itu! Terus bandingin mana yang paling besar.”
“Kok sama ukurannya? Perasaan lebih besar yang ini.” Aku jadi bingung.
“Ini namanya ilusi Jastrow Majidi. Yaitu, ilusi yang terjadi karena 2 benda yang berbentuk kipas, yang dibandingkan dengan cara menyamakan sudut pinggiran bolunya.”

Aku membandingkan kedua potongan bolu itu lagi. Ternyata benar, ketika 2 benda berbentuk kipas yang diurutkan dengan membandingkan kedua sudut pinggirnya. Maka akan membentuk ilusi optik yang disebut Jastrow.
“Tadi katanya bandingin mana potongan bolu yang paling besar, nyatanya dua-duanya sama besar tuh. Ehhmm.” Kataku sedikit menyindir.
“Itu namanya tebak-tebakan jebakan. Wah, majidi tadi pagi gak masuk sekolah ya? Tadi diajarin sama guru baru. Siapa ya namanya, saya lupa.” Jawabnya. Tak kusangka, ternyata Sakih pintar juga ya, pelajaran tentang ilusi optik.
“Saya kan lagi sakit Kih.”
“Ya sudah, saya pamit dulu ya majidi. Saya do’ain semoga majidi cepat sehat.”
“Aamiin.”

Berikutnya, ‘Guru Baru’

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami