Sikap NW-ku Bahagian 2

Tepat 9 Maret 2018, berarti 4 tahun yang lalu saya pernah menulis “Sikap NW-Ku” dalam tulisan ini disebut sebagai sikap NW-ku bahagian pertama. Tulisan tersebut menjelaskan sikap yang aku rasakan saat sebahagian warga NW “kurang” simpati terhadap apa yang sedang aku alami.

Dalam kesendirian, aku berusaha bangkit dari rasa “curiga” sebahagian orang terhadap diri yang dhoif ini. Aku hanya ditemani keluarga dan seorang sahabat dulu masih bergelar, S.Ag. namun sekarang beliau sudah menjadi salah seorang guru besar (Professor) bidang Sejarah, dialah saudaraku, kawanku Prof. Dr. Haji Jamaluddin Rifa’i. bersamanya mencari keadilan dengan mendatangi beberapa tokoh NW yang kami kenal “netral”. Keris kecil terselip sembunyi di dalam bahagian dalam celana panjang beliau, ini untuk berjaga-jaga kata beliau saat aku bertanya.

Kini NW-ku sudah jauh bergerak menuju landasan kepastian, walau masih terus membina suasana saling memahami (al-Tafahum), menghargai (al-tasâmuh) dan mengasihi (al-tarahum).

Kesepahaman konsep bahawa NW mesti bergerak maju kehadapan, tidak terpaku dengan masa silam. Kita boleh berbeda namun langkah memajukan NW mesti segera dijalankan. Menghargai perbedaan karena sejatinya, Allah mengharmonikan kita dalam sebuah perbedaan (ikhtilafu Ummati rahmat) perbedaan pandangan ummatku merupakan sebuah rahmat. Saling mengasihi karena Sayyidina Umar diampuni segala khilaf dan dibebaskan dari pertanyaan dalam kubur oleh Malaikat (Munkar wa Nakir) sebab ia menyayangi seekor anak burung (Ushfur). Baginda Rasul pun menegaskan dalam sebuah hadits yang sangat populer (kitab Syarh al-Mawaidz Ushfuriyyah oleh Imam Ushfuri).

الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Artinya: Orang-orang yang saling berkasih sayang, ia akan mendapatkan kasih sayang Allah, kerana itu sayangilah semua makhluk yang ada dimuka bumi, maka Allah meminta seluruh penduduk langit untuk menyangi kita.

NW-ku berkata; orang yang paling murni NW-nya ialah mereka yang mengasihi dan memberikan manfaat sebanyak mungkin untuk kepentingan orang lain, bukan mereka yang hanya mengambil keuntungan untuk diri, family dan kelompok tertentu.

Nw-ku berkata; orang yang paling dekat dengan perjuangan NW ialah mereka yang berusaha menghidupkan NW dimanapun ia berada, bukan mereka yang “hanya” menjadikan NW sebagai tempat kehidupan diri, family dan kelompoknya semata.

NW-ku berkata; bergeraklah (al-harakah) barokah (anda akan mendapatkan keberkatan). Berkat berarti bertambahnya kebajikan (Ziyadatul Khair) yang didapatkan lalu di share kesemua makhluk Allah. الحركة بركة dan Nabi bersabda dalam sebuah hadits beliau yang bermakna; “Sebaik-baik manusia ialah mereka yang paling bermanfaat untuk orang lain”.

NW-ku berkata; Jangan perdulikan (dengarkan) kata mereka yang ingin menghentikan langkahmu dalam memajukan NW, yang penting langkah, sikap dan ucapanmu tidak terkeluar dari bingkai syariat dan aturan organisasi. لا تسمع قول الأخرين مادمت في خير teruslah melangkah maju walau esok langit akan runtuh. Nilai kita bukan pada komentar orang lain terhadap apa yang kita jalankan, melainkan ia akan tercermin dari sikap istiqamah dalam melangkah. Mendengar komentar orang lain akan membuat langkah kita terhenti.

NW-ku berkata; Jika engkau sudah on the track, lalu engkau mendapatkan kesulitan (halang-rintang), maka serahkan kepada yang Maha Mengatur kehidupan, karena apabila engkau dalam keadaan sulit, pasti akan ada jalan keluarnya. إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا Sesungguhnya bersama kesulitan akan datang kemudah. Imam al-Syafi’i menegaskan bahawa bersama kesulitan akan didatangkan kemudahan إذا ضاقت اتسعت.

NW-ku berkata; Jangan paksaan orang lain mengikuti pandangan dan arahanmu, karena setiap manusia diciptakan dengan membawa logika dan rationalitas tersendiri, selama engkau berada dalam logika dan rationalitas yang benar dan tidak melanggar ketentuan yang telah disepakati bersama.

NW-ku berkata; taati ibu bapak dan gurumu, karena sebab ibu bapaklah engkau terlahir (ada) di dunia ini dan hormati guru-gurumu, sebab merekalah engkau akan diangkat (dimuliakan) kehadirat Allah Azza Wajalla.
Taat guru merupakan kunci keberkatan, jangan engkau bertanya mengapa atau ada apa pada gurumu, sebab boleh jadi pertanyaanmu dapat menghilangkan keberkatan ilmu yang engkau dapat bahkan oleh sebagian ahli sufi sesiapa yang berkata “lima/لما” maka ia tidak akan selamat (sampai tujuan) dalam menuntut ilmu iaitu mendapatkan keberkatan.

Aku pernah diajak untuk “pindah” kendaraan (organisasi), lalu akupun menjawab tegas, afwan aku sudah berada dalam sebuah kendaraan (organisasi NW), jadi aku hargai tawaranya dan dengan mantap aku berada pada NW-ku yang sudah membesarkan diriku, NW-ku yang sudah aku nyatakan baiatku pada Sang Maha Guru Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sang pendiri dan pengasas NW tercinta.

Wahai kawan-kawanku, kita memang berbeda tempat (alat) berjuang, namun kita tetap satu sebagai ikhwan, sebagai saudara, sebagai kawan dan fartner, jangan karena perbedaan kita saling memusuhi, kendaraan boleh berbeda, namun tujuan kita sama iaitu mencari redha dan meninggikan kalimat Allah dalam membina persatuan dan kesatuan Ummat.

Wallahu a’lamu bi al-Shawab.
9 Sya’ban 1443H/ 12 Maret 2022
Pusat Penyelidikan dan Pengajian Jawi dan Kitab Turath
Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan- Brunei Darussalam

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami