Al Magfurlah Maulanasyaikh Sosok Ayah Yang Paling Adil Dan Sayang Kepada Kedua Anaknya

Oleh : Dr. Fauzan, M.Pd (Mantan Ketua BANP PAUD & PNF NTB)

Jika ada yang merasa melanjutkan perjuangan Al Magfurlah Maulanasyaikh dengan cara menyebut ada keturunan Maulanasyaikh yang tidak benar, maka itu adalah pilihannya.

Saya memilih melanjutkan perjuangan Al Magfurlah Maulanasyaikh dengan cara mencari sisi baik semua zurriyat Al Magfurlah Maulanasyaikh, karena saya sangat tahu Al Magfurlah adalah seorang yang sangat adil terhadap semua anak cucunya.

Siapakah orang Lombok selain Maulanasyaikh yang menyebut dirinya dengan nama semua anaknya? Kebiasaan semua orang Lombok pasti menyebut dirinya dengan anaknya yang paling besar. Amaq Sri. Inak Muhammad. Abu Ihsan. Dst. Hanya Maulanasyaikh yang menyebut dirinya Abu Rauhun WA Raihanun. Bukan Abu Rauhun saja atau Abu Raihanun saja. Adakah orang Lombok lain selain Al Magfurlah Maulanasyaikh yang seperti ? TIDAK ADA!!!

Sangat suul adab kita kepada Maulanasyaikh karena kitalah yang membuatnya dicap tidak adil kepada anak-anaknya. Padahal beliau adalah seadil-adilnya seorang ayah. Hanya Al Magfurlah Maulanasyaikh yang membuat wasiat khusus kepada kedua anaknya:

Wahai anakku Rauhun Raihanun
Tetapkan diri selangkah seayun
Membela NW turun menurun
Bertangga naik berjenjang turun

Apakah maksud wasiat ini supaya kedua putrinya tidak rukun atau supaya selalu rukun? Kenapa justru kita yang mendorong kedua putrinya supaya selalu tidak rukun. Apa mauk te meak Maulanasyaikh marah di alamnya. Karena kedua anaknya tidak pernah akur. Maulanasyaikh juga yang pernah berkata mun mek dukung salah satu anakku saja, semeka mek lecok matangku setoek.

Apa sesungguhnya yang membuat kita senang melihat kedua putri beliau selalu tidak akur. Usia beliau berdua sudah sepuh, mari kita upayakan beliau berdua saling silaturrahmi. NW dan NWDI adalah jalan keluar karena dengan paraf dan tandatangan nya RTGB LM Zainuddin Astani, M. PdI atau Maulanasyaikh Zainuddin Atsani dan TGB Dr HM Zainul Majdi, MA, berarti keduanya sudah sepakat untuk bersama-sama melanjutkan perjuangan Al Magfurlah Maulanasyaikh dengan wadahnya masing-masing. Tujuh point kesepakatan itu sudah mengatur semuanya. Kalau ada yang kurang Mari kita perbaiki dengan semangat persaudaraan. Sekali lagi persaudaraan, karena memang kedua Umi bersaudara.

Saya teringat di ruang kelas di Yogya saat saya menempuh perkuliahan Penelitian Kualitatif, dosennya Prof Dr.Safri Sairin, dosen UGM asal Padang, mengatakan di depan ruang kelas, di Lombok yang namanya Tuan Guru, sepeti Kiayi di Jawa, tapi di sana sangat berpengaruh. Orang mau jadi apa-apa harus minta restu Tuan Guru. Tapi ada justru Tuan Guru paling Kharismatik nya punya anak hanya dua, tidak pernah akur, bahkan kadang-kadang jamaahnya bentrok fisik dan menimbulkan korban. Orang menyebut dua anaknya dengan R1 dan R2. Padahal mereka bersaudara.

Saya langsung angkat tangan, tapi Prof mereka lain ibu. Prof Safri langsung jawab, lain ibu juga saudara, karena Bapaknya satu. Orang tidak bersaudara saja bisa bersatu!!! Hampir saya mengatakan sayyidina Ali dan Siti Aisyah pun berperang, tapi saya urungkan, saya memilih diam. Saya tidak enak teman-teman yang tidak tahu masalah semua memandang ke saya, karena menginterupsi Prof Safri. Profesor Ahli Budaya Jawa, meskipun asli Padang.

Malamnya saya menangis mengingat kedua putri Al Magfurlah Maulanasyaikh, dan saya tak terasa bergumam, Ya Allah rukun dan damaikan mereka, kedua anak Guru saya.Kami tidak tahu caranya, tapi Engkau pasti tahu caranya.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami