PD NWDI Kota Depok Menyelenggarakan Bedah Buku: Hidup Bersama Ibnu Athaillah

Depok, SinarLima – Kitab Al Hikam adalah adalah salah satu kitab yang terkenal di dunia Islam. Al Hikam menjadi kanjian rutinitas di pesantren-pesantren. Begitu juga di Mahad Alquran Fityanul Ulum NWDI Kota Depok membedahnya dengan tema Hidup Bersama Ibnu Athaillah: Mengurai Aforisme Kitab Al Hikam bersama KH. Hasyim Muzadi karya Husnul Ma’ab, kader NWDI Kota Depok.

Bedah Buku tersebut dibedah oleh Husnul Ma’ab, penulis buku, intelektual muda NU, Darmawan, M.Ag, pimpinan Ma’had Sengon, TG. Hasan Asy’ari dan santri serta pemuda di sekitar Ma’had Sengon.

Husnul Ma’ab, yang juga nyantri di Pesantren Al Hikam, Pimpinan KH. Hasyim Muzadi, sangat bersyukur mendapatkan pengajian di Al Hikam. Pasalnya KH. Hasyim Muzadi, sejak dulu mengajarkan kitab ini kepada para santri dan masyarakat umum. Beliau disela-sela kesibukkannya, senantiasa menyelipkan waktu agar bias mengajarkan kita, baik ketika beliau sakit maupun sehat.

“Saya dan teman-teman santri menyaksikan secara langsung, dengan mata kepala sendiri, betapa istiqomahnya beliau mengajarkan kitab ini, tutur Ma’ab bercerita. Dalam kondisi sakit pun, ketika di rawat di rumah sakit di Malang, kami diboyong ke Malang untuk melanjutkan pengajian Al Hikam, lanjut bercerita. Sampai menjelang hayat beliau, masih sempat, waktu itu tengah malam sekita jam 10-an kami dibangunkan untuk mengaji Al Hikam, kata Ma’ab, seraya merasa bersyukur”.

Darmawan menjelaskan bahwa Ibnu Athaillah adalah mursyid ketiga dari tariqah Syadjiliyah. Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu, jelas anak Cirebon itu. Ibnu Athaillah ulama yang produktif, salah satu magnum opusnya adalah Kita Al Hikam, lanjutnya. Ulama panutan dan bersih, menjadi panutan bagi banyak orang yang ingin menuju jalan Tuhan.

Sedangkan TG. Hasan, sapaan akrabnya, mengambil satu bahasan dalam Al Hikam mengenai Tanda-tanda Matinya Hati. “Di antara tanda-tanda kematian hati adalah, tidak adanya rasa sehih terhadap sesuatu yang terlewat dari sesuatu yang jelak dan tidak adanya perasaan menyesal terhadap apa yang dilakukan dari wujud ketergelinciran’, jelas beliau sambi mengutip buku yang dipegangnya.

Bedah buku ditutup dengan berfoto bersama sambil menyeruput kopi, bercengkrama sesama kader NWDI Kota Depok yang hadir dan para santri.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami