TGB Pengajian (05) KONSEP BELAJAR DALAM ISLAM

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa

Ilmu adalah cahaya Allah yang tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat. Cukuplah santri dikatakan “bermaksiat” manakala ia berani berleha-leha dalam menuntutnya. Apalagi sampai meremehkan guru. Wal’iyazubillah.

Pada saat pengajian di Pondok Pesantren Darul Habibi Paok Tawah Lombok Tengah, Syekhona Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi memberikan pesan kepada para santriwan dan santriwati di sana untuk memperhatikan dua hal, yakni:

Pertama, belajar yang tekun. Tidak ada ceritanya orang sukses karena bermain-main melulu. Pasalnya, Allah swt. berfirman إقرأ باسم ربك bukan إلعب قارئا . “Bacalah dengan nama Tuhanmu” bukan “bermainlah sambil membaca”.

Kedua, hormati guru. Syekhona TGB al-Hafidz menegaskan bahwa, “Konsep belajar dalam Islam itu adalah selamanya yang namanya guru, tetap guru. Sealim-alimnya kamu, setelah selesai menuntut ilmu.”

Nasihat Syekhona ini mengingatkan saya kepada guru ngaji di pelosok dusun. Saya sendiri memiliki guru ngaji yang hanya sekedar bisa mengajar alquran, tanpa bisa mengeja atau membaca aksara Indonesia. Ia benar-benar buta aksara.

Namun, dari tangan dan didikannya saya dengan mudah bisa lancar baca alquran, setelah sekian kali pindah mencari guru tempat mengaji. Beliau SD hanya sampai kelas dua. Rasa “ta’zhim” saya untuknya, kembali membuncah setelah mendapat petuah dari Syekhona al-Hafidz untuk tetap menjaga identitas diri sebagai murid. Jangan dibalik meski kini saya telah sarjana.

Duhai guru, izinkan saya mengangkat topi ini untukmu, sembari berdoa semoga di usia senjamu engkau diberi usia panjang dan kesehatan. Amiin.

Demikian dua hal pokok utama dalam belajar. Tekun dan menghormati guru. Keduanya menjadikan santri cepat paham dan memperoleh keberkahan ilmu. Adapun selebihnya, terkait sarana dan prasarana, kata Syekhona TGB bisa dikembangkan sesuai tuntutan zaman.

Beliau mencontohkan. Kalau dulu sarana belajar belum ditunjang dengan komputer, sekarang pembelajaran dituntut untuk bisa dan menggunakan media tersebut, maka tak mengapa.

Sama halnya. Kalau zaman dulu, santri mutalaah kitab, ia langsung memegang fisik kitabnya. Sekarang mutalaah bisa melalui handphone atau komputer. Kata TGB, cara bisa kita sesuaikan dengan kemajuan.

“Silahkan mengembangkan metode-metode pengajaran yang paling cocok untuk menghadapi masa depan. Supaya anak-anak kita menjadi orang yang memiliki keahlian.” Kata Syekhona TGB mempersilakan kita berkreasi dan berinovasi.

Melalui inovasi dan penyesuaian tersebut diharapkan lahir generasi mendatang yang tidak menjadi beban orang lain. Justru, santri menjadi alumni yang berkreatif, berproduksi, melahirkan kebaikan dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Syekhona TGB al-Masyhur berharap ke depan Pondok-pondok Pesantren tidak hanya melahirkan Tuan-tuan Guru, namun juga bisa melahirkan “Attajirul Amin” (Pedagang yang amanah), “Assiasi al-Amin” (Politisi yang jujur), “Al-Mudarris al-Amin” (Pendidik yang amanah), dan lain sebagainya.

Wa Allah A’lam!

Paok Lombok, 8 Nopember 2021 M.

#StafPengajardiPPSelaparang
#KetuaIMMZAHSelaparang
#SekretarisPCNWDIKediri

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami