BAGIAN (2) “PERINGATAN MAULID NABI DAN PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN MADRASAH NWDI MUARA GEMBONG BEKASI”

Selanjutnya tausiyah memperingati Maulid Nabi oleh Penasehat NWDI DKI Jakarta sekaligus pimpinan Ponpes NW Jakarta yaitu Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ. Ada beberapa hal pokok yang disampaikan dalam taushiyah beliau;

  1. Kalau orang sudah nyambung aliran batinnya, maka senantiasa tumbuh rasa cinta di hati walaupun jaraknya berjauhan. Dan nanti di akhirat akan dikumpulkan oleh Allah di dalam surga bersama orang-orang yang dicintai.
  2. Orang yang menghadiri pengajian walaupun dalam keadaan ngantuk dan tertidur jauh lebih bagus dari pada orang yang ada di rumah dalam keadaan terjaga dan dapat mendengar ilmu-ilmu yang disampaikan oleh para guru melalui pengeras suara (loudspeaker). Orang yang mendengar pengajian dari rumah pahalanya sedikit, sedangkan orang yang datang menghadiri pengajian pahalanya sempurna (full) walaupun dalam keadaan tertidur.
  3. Kita doakan ayahanda Bapak M. Nasir yaitu almarhum Bapak Tijol bin Wasjan yang sudah dipanggil oleh Allah beberapa hari yang lalu, semoga kematiannya husnul khotimah, diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya dan kuburnya Allah jadikan penuh nikmat laksana taman diantara taman surga dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan sabar menghadapi musibah ini. Juga kita doakan semoga Bapak H. Lathif yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan madrasah NWDI Muara Gembong senantiasa Allah berikan kesehatan, keberkahan dan panjang umur.
  4. Kami sangat merindukan kehadiran anak-anak alumni pondok pesantren NW Jakarta yang berasal dari Muara Gembong, dimana anak-anak alumni ini selama 6 tahun belajar di pesantren. Wahai anak-anakku dimana kalian, kami sangat mencintai dan menyayangimu ini bapakmu jauh-jauh datang ingin berjumpa denganmu untuk melihat senyum tulusmu. Alangkah bahagianya kami kalau seandainya kalian datang menyempatkan waktu dan meninggalkan segala kesibukan kalian. Jangan putuskan cinta kalian gara-gara dunia ini, ingatlah bahwa cinta yang tulus karena Allah itulah cinta yang abadi yang akan kita bawa mati menghadap kepada ilahi.

Kalian jangan kalah dengan Bapak H. Lathif walaupun tidak pernah sekolah dan nyantri di pondok pesantren NW Jakarta, tetapi beliau menunjukkan rasa cintanya yang luar biasa dengan mewaqafkan 4000 meter tanahnya untuk dibangunkan madrasah NWDI di Muara Gembong ini. Semoga kalian para alumni pondok pesantren NW Jakarta dari Muara Gembong, Gabus, Bekasi, Bogor dan lainnya diberikan keberkahan oleh Allah SWT, dibukakan taufiq hati kalian oleh Allah SWT untuk mencintai perjuangan para ulama kita.

  1. Ayahanda Bapak M. Nasir sudah 4 hari lalu menghadap kepada Allah. Memang hidup di dunia ini tidak ada yang pasti, yang pasti adalah kematian. Kalau ayahandanya Pak M. Nasir diibaratkan sudah beli tiket dan sudah terbang (take off) menghadap kepada Allah. Sedangkan kita yang masih hidup ini sudah beli tiket tapi belum terbang dan sedang menunggu suatu saat akan terbang juga sesuai dengan janji Allah yang diputuskan untuk kita. Hidup kita ini tidak akan pernah sempurna kecuali melalui kematian, ibarat telur ayam yang dikerami oleh induknya tidak akan sempurna kejadian ayam tersebut sebelum berhasil menetas keluar dari cangkangnya.
  2. Cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya selain dengan membaca yasin, tahlil dan bersedekah, juga sangat dianjurkan untuk shalat sunnah dua rakaat untuk almarhum/almarhumah yang sudah meninggal dunia sebagaimana yang saya baca dalam salah satu kitab aswaja karangan KH. Ma’shum. Niatnya adalah “saya niat shalat sunnah dua rakaat untuk almarhum/mah ……… dua rakaat karena Allah Ta’ala”. Rakaat pertama dan kedua setelah al fatihah adalah ayat kursi sekali, surat At Takatsur sekali dan surat Al Ikhlas 10 kali. Setelah selesai salam lalu berdoa “Ya Allah saya sudah shalat sunnah dua rakaat, tolong Engkau sampaikan pahalanya untuk almarhum/almarhumah. Maka seketika pada saat itu Allah mengirim 1000 malaikat membawa sinar dan cahaya yang terang ke dalam kubunya dan pahala-pahala yang lain.
  3. Dalam kaedah agama dinyatakan bahwa “mendahulukan kepentingan orang banyak jauh lebih utama dari pada mendahulukan kepentingan diri sendiri”. Contoh orang yang mewaqafkan tanahnya untuk kepentingan umat Islam seperti Bapak H. Lathif ini, orang yang rajin belajar ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut, orang yang menggali parid-parid sebagai saluruan irigasi ke sawah-sawah dan orang yang membuat sumur air untuk kebutuhan minum sehari-hari. Semua contoh ini keutamaannya jauh lebih bagus dari pada berwirid semalam penuh dan in sya Allah akan terus mengalir pahalanya hingga hari kiamat.

Setelah selesai taushiyah dilanjutkan pembacaan doa penutup oleh KH. Huzaimi pimpinan Ponpes Al Muawanah Desa Pantai Mekar, Muara Gembong. Selesai doa para tokoh dan alim ulama beserta jama’ah menuju lokasi peletakan batu pertama Pembangunan Madrasah NWDI Muara Gembong, Bekasi. Dalam peletakan batu pertama ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PW NWDI DKI Jakarta TGH. Muslihan Habib, MA yang diawali dengan pembacaan shalawat Nahdlatain. Beliau memberi aba-aba dengan mengucapkan; “Sebelum kita menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan madrasah NWDI Muara Gembong, marilah kita membaca shalawat Nahdlatain, semoga dengan shalawat Nahdlatain ini Allah Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran dan kesuksesan dalam proses pembangunannya sampai selesai nanti”. Para jama’ah yang ikut menghadiri peletakan batu pertema ini membaca shalawat Nahdlatain secara khusyu’ berjama’ah.

Setelah pembacaan shalawat Nahdlatain dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan madrasah NWDI Muara Gembong secara simbolik oleh para tokoh dan alim ulama yang hadir diantaranya Drs. KH. Muhammad Suhaidi, SQ, TGH. Muslihan Habib, MA, H. Christianto ADT, MT. H. Lalu Alwi, Heryanto, S.Si, Lalu Mahdi, MM, Ust. H. Mumtaz. KH. Huzaimi dan lain-lain. Tidak ketinggalan waqif (yang memberi wakaf) H. Lathif ikut serta melakukan peletakan batu pertama pada pembangunan madrasah ini.

Setelah selesai peletakan batu pertama, para tokoh ulama, tokoh masyarakat dan jama’ah mengikuti acara ramah tamah dengan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh para panitia diantaranya ikan bandeng bakar yang segar, harum dan lezat. Juga menikmati udang goreng berukuran besar dengan bumbu sedap ala Muara Gembong yang enak, lezat dan menggiurkan. Semua suguhan ikan bandeng dan udang ini berasal dari budidaya tambak ikan yang berada di sekitar pesantren NWDI Muara Gembong. Pokoknya NW, pokok NW iman dan taqwa, NWDI fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). (Amr/Redaksi)

Bekasi, 26 Rabiul Awwal 1443 H/2 November 2021 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami