Dakwah TGB (91) *RASULULLAH, PEMBAWA HIDAYAH*

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa

Salah satu hikmah penting dari perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. ialah supaya kita menambah kesyukuran kepada Allah terhadap pengutusan Muhammad bin Abdullah sebagai nabi dan rasul-Nya.

Kesyukuran tersebut diilustrasikan Syekhona TGB dalam ceramahnya di masjid an-Nur Riau (20 Oktober 2021) seperti orang yang mau datang ke Riau, bisa menempuh bermacam-macam jalan.

Banyak jalan untuk bisa sampai ke Riau. Bisa melalui udara, darat atau laut. Bisa pula langsung –tanpa teransit– dari rute Jakarta ke Riau. Bisa dan boleh juga, kalau kita mau mutar dari Ibu Kota ke Surabaya untuk sampai ke Riau.

Namun, “Untuk urusan bisa sampai kepada Allah, kita harus menempuh jalan yang diajarkan Rasulullah yakni الدين الإسلام atau الصراط المستقيم agama Islam yang lurus”. Demikian kata Syekhona al-Hafidz.

Kita pun, mesti bersyukur bisa menempuh jalan yang diajarkan Rasulullah, yakni Islam. Jalan berupa _ad-Din al-Islam_ adalah satu-satunya jalan yang mesti dan benar untuk ditempuh, setelah diutusnya Baginda. Sebab, sebelum diutusnya beliau banyak jalan ditempuh orang.

Jalan hidayah itu yang disebut oleh Syekhona TGB sebagai satu karunia terbesar yang harus disyukuri. Karena dengan hidayah itu kita memiliki modal yang sama dengan para sahabat dan ulama-ulama terdahulu, dalam memeluk Islam.

Apa modal yang sama itu? Itulah Iman dan Islam.

Dua modal ini yang diibaratkan oleh Syekhona TGB seperti kita yang hidup di Indonesia, memiliki makanan pokok (modal) berupa nasi. Semua kita sudah mendapat sepiring nasi, kemudian lauk pauknya tergantung kita, mau yang lezat, setengah lezat atau bahkan yang tak lezat sekalipun.

Lauk pauk itulah yang disebut ilmu, amal dan akhlak. Di sinilah titik terberat tantangan kita. Modal Iman dan Islam sudah ada, tinggal sekarang bagaimana kita menghiasi hidup ini dengan ilmu, amal dan akhlak tadi.

Bukankah orang yang berilmu dan dan bodoh, berbeda? Bukankah hanya amal saleh kita yang dinilai Allah? Dan bukankah akhlak yang menjadi visi utama pengutusan Muhammad yang maulidnya kita rayakan?

Kini, antara kita dengan para sahabat Nabi Muhammad saw. dan para ulama terdahulu, masing-masing telah memiliki modal yang sama (Iman dan Islam). Sekarang, sanggupkah kita atau tidak untuk melezatkan lauk pauk (ilmu, amal dan akhlak) seperti mereka.

“Rasulullah sudah kasih kita hidayah Iman dan Islam. Tinggal bagaimana sekarang kita memperindah hidangan itu, dengan lauk pauk yang semakin membuat hidangan itu menjadi lezat dan bermanfaat. Maka, hidayah Allah melalui Rasulullah itu tinggal dilengkapi.” Demikian kata ulama yang pernah menjabat Gubernur NTB (2008-2018).

Dua modal utama berupa hidayah Iman dan Islam, menjadikan manusia di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun, semua memiliki peluang dan porsi yang sama untuk bisa masuk surga dan memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

Nabi Muhammad saw. menyebut dalam hadisnya:

مَثَلُ أُمَّتِي مِثْلُ الْمَطَرِ لَا يُدْرَي أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ
“Perumpamaan ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang kebih baik, awalnya atau akhirnya.” (HR. Tirmidzi 2869, Ahmad dalam Musnadnya).

Setelah syekhona TGB mengutip hadis di atas, lalu beliau menjelaskan potensi kita sebagai umat yang hadir pada 1433 tahun (Hijriyah) setelah wafatnya Baginda Rasulullah saw.

Kata beliau, kita (umat) ini bak air hujan. Pada tetesan ke berapa yang menumbuhkan padi dari guyuran air hujan. Wa Allah A’lam! Artinya, dari sekian pergantian generasi umat Nabi saw. kita tetap memiliki peluang yang sama untuk berbuat baik, berprestasi, dan memberikan kemanfaatan untuk Islam dan umat manusia.

Peluang yang sama inilah, mari kita syukuri bersama-sama.

Wa Allah A’lam!

Paok Lombok, 26 Oktober 2021 M.

 

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami