Cantik dan Pendidikan Perempuan

Oleh: MUNA DESRIANTI (BENDAHARA HIMMAWATI HIMMAH NWDI CABANG LOMBOK TIMUR)

Cantik itu relative, kata orang dalam menilai perempuan. Namun hal tersebut nyatanya tidak mengurangi sikap diskriminatif bagi cara memandang fisik perempuan. Cantik, seperti sihir, membuat perempuan berlomba-lomba mempercantik diri dengan segala cara, bahkan lewat jalur yang tidak masuk akal. Apa mau dikata? Cantik memang idola.

Cantik ada standarnya, menurut zaman dan masing-masing orang di dalamnya. Cantik dapat dinilai dari berbagai segi dan cara. Cara memaknai cantik berubah sesuai perjalanan zaman yang semakin menemukan pencerahan. Pendidikan, terutama pendidikan perempuan menjadi tonggak perubahan makna cantik. Seperti kata pepatah, waktu akan mendewasakan pemikiran seseorang. Dan perubahan cara memaknai cantik selangkah seayun dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sepertinya perlu pembahasan tentang cantik dalam perjalanan sejarah.

Ribuan tahun yang lalu, perempuan cantik dipuja-puja seperti dewa. Kecantikan menjadi penentu layak atau tidaknya hidup perempuan ditengah komunitas. Cleopatra misalnya, seorang ratu yang terkenal akan kecantikannya, mampu memikat hati sang pewaris tahta Mesir. Isunya, Cleopatra hanya mengandalkan kecantikan untuk mempertahankan kekuasaan. Menurut saya, disamping kecantikan, Cleopatra sudah pasti seorang perempuan yang berpendidikan. Perempuan bangsawan mendapat pendidikan khusus dari pihak istana yang tentu saja tidak akan didapatkan perempuan biasa lainnya.

Dibagian Arab sebelum kedatangan Islam, perempuan adalah barang dagangan. Di setiap pasar terdapat perdagangan budak yang memamerkan perempuan tanpa balutan busana. Sekali lagi, cantik menjadi standar laku tidaknya perempuan sebagai barang dagangan. Kehormatan? Perempuan masa itu tidak berhak berbicara kehormatan, seenaknya di gauli tuan sendiri, bisa di tukarkan, dibunuhpun bukan hal berat untuk dilakukan. Datangnya Islam dengan risalah yang memuliakan perempuan, sedikit demi sedikit merubah budaya bagaimana memperlakukan perempuan. Pendidikan bagi perempuan sama berhaknya dengan pendidikan laki-laki. Hal ini sudah dijelaskan secara rinci dalam hadits Nabi.

Beralih ke dunia Eropa, sepertinya sama saja. Pendidikan di zaman dulu hanya bisa di akses perempuan bangsawan. Dimasa Yunani Kuno, perempuan menjadi simbol kepercayaan, di wujudkan dalam bentuk dewi-dewi penguasa yang disembah masyarakat Yunani Kuno. Diabad pertengahan, posisi perempuan terutama pendidikannya tidak terlalu di perhatikan, di samping saat itu Gereja sangat kuat dominasi.

Sebuah novel berjudul Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan berlatar 1900-an, menceritakan seorang perempuan cantik berdarah Indonesia-Belanda bernama Dewi Ayu, dan bagaimana “cantik” justru tidak memanusiakan perempuan dimasa itu. Dewi adalah seorang pelacur papan atas incaran laki-laki hidung belang, tempat berlabuhnya nafsu lelaki pribumi maupun tentara kolonial. Dewi dan kebanyakan perempuan masa itu menjadikan selangkangan sebagai alat pencetak uang. Cantiknya perempuan menjadi boomerang, menjadi sasaran seksual, jika tidak menjadi pelacur setidaknya menjadi gundik para bangsawan. Tolok ukur berharganya seorang perempuan adalah saat tubuhnya bisa dinikmati. Hebatnya perempuan adalah sehebat apa dia diatas ranjang. Perempuan masa itu sangat lumrah ditiduri banyak laki-laki. Status sudah beristri atau bersuami tidak menjadi penghalang berhubungan seksual dengan orang lain. Cantik menjadikan perempuan masa itu merasa menang menaklukkan, dan cantik menjadikan laki-laki tunduk tanpa syarat pada perempuan.
Pendidikan masa kolonial datang dengan politik etis, yaitu kebijakan balas budi kepada tanah koloni setelah sebelumnya wilayah koloni ini di eksploitasi. Taman siswa selain menjadi pondasi lahirnya pendidikan juga mempunyai kurikulum yang unik. Taman siswa mengajarkan kurikulum pemahaman gender bagi anak didiknya. Kirsten mengutip karya Ni Soelasmi dalam pendidikan anak-anak (1993) menerangkan bahwa anak laki-laki yang dididik bersama anak perempuan akan menerima kehalusan dan kesopanan. Demikian sebaliknya, anak perempuan juga akan menerima perasaan keberanian dan bersahaja dari anak-anak laki-laki. Taman siswa turut berperan sebagai keluarga, menjadi pondasi tersendiri bagi anak didik termasuk anak didik perempuan.

Dalam Nji Mangoensarkono berjudul Kedoedoekan wanita dalam keluarga Taman Siswa, dikutip Kirsten mengatakan “Menurut paham Taman Siswa kodrat wanita yang paling utama adalah menjadi ibu. Segala sifat dan kecakapan keperempuanan yang baik adalah syarat-syarat untuk menjalankan kewajiban ibu sebagai pendidik yang sempurna”.

Dizaman Kartini, begitu getolnya sang putri bangsawan ini memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pendidikan bagi perempuan masa itu hanya menyentuh para putri bangsawan. Tingkat kekritisan dan gerak belajar sangat dibatasi. Pendidikan bagi perempuan hanya mengarah pada bagaimana perempuan dididik agar menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mampu melayani suami, bukan dengan tujuan memerdekakan pikiran perempuan itu sendiri. Berdalih ajaran agama, padahal tafsir agama yang digunakan sangat diskriminatif terhadap kebebasan kaum perempuan. Lagi-lagi agama dijadikan justifikasi perbuatan semena-mena kaum laki-laki. perempuan dikurung dalam ranah domestik, dijaga dengan tujuan melahirkan keturunan penerus tahta dan kekuasaan. Perempuan sama saja seperti mesin pencetak.

Dizaman ini, makna cantik masih berputar pada paras menarik dan perempuan penurut yang rela hati terkurung didalam rumah.
Cikal bakal kesetaraan peran perempuan rupanya telah dikenal sejak masa Indonesia kuno. Perempuan dipandang cukup istimewa dan diberikan ruang yang cukup untuk mengekspresikan dirinya. Perempuan diposisikan sebagai mitra lelaki yang memiliki keleluasaan bergerak, baik di ranah publik maupun di ranah domestik. Perempuan memiliki hak dalam menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya penting bagi kemajuan masyarakat. Perempuan sebenarnya sudah memiliki andil besar jauh sebelum negara Indonesia merdeka (arkeologi.fib.ugm.ac.id).

Namun menurut saya, kesempatan mengekspresikan diri mencakup hanya segelintir orang dan segelintir kalangan saja. Bisa dikatakan hanya perempuan-perempuan beruntung yang hidup berdampingan dengan akses pendidikan yang mudah.

Negara Indonesia setelah kemerdekaan meski memiliki keterbukaan pemikiran namun masih memegang budaya patriarki disebabkan pengaruh budaya awal ditambah penjajahan. Perjuangan, gagasan dan suara perempuan malah sepi dan seperti tidak berada lagi. Catatan sejarahpun ikut berperan mengubur eksistensi perempuan dan menghapusnya sama sekali, sehingga peran perempuan yang tercatat tidak jauh dari peran domestiknya saat di dapur umum membantu gerilyawan.Dari sisnilah kemudian muncul arus besar dalam pendidikan sejarah Indonesia bahwa para pejuang kemerdekaan hanya semata-mata terfokus pada laki-laki.

Pendidikan adalah proses humanisasi atau proses memanusiakan manusia. Manusia tidak bisa hidup dan berkembang secara sempurna jika tidak diiringi dengan pendidikan. Terdapat banyak data yang menunjukkan lemahnya perempuan dalam sector pendidikan, terdapat ketimpangan bagi kaum perempuan dalam memperoleh pendidikan. Perempuan kurang memiliki kesempatan mengakses dan menikmati pendidikan secara layak. Akibatnya, perempuan terpaksa memiliki posisi sosial yang lemah. Sebab, rendahnya pendidikan seringkali berbanding lurus dengan semakin banyaknya keterbatasan.

Terlalu panjang perjalanan cantik jika harus di rincikan. Setelah proklamasi 1945, pendidikan perempuan terutama di Indonesia mengalami pasang surut dan dinamika menurut masing-masing zaman para penguasa. Pendidikan perempuan semakin marak menyaingi pendidikan laki-laki. Sekolah-sekolah dibangun, komunitas-komunitas perempuan semakin di galakkan sebagai bentuk andil membangun bangsa dan tanah air. Dizaman modern sekarang, zaman serba digital, semakin eksis para perempuan bersekolah tinggi, berkarir, membentuk perkumpulan bermacam-macam dengan berbagai gerakan sosial. Perempuan masa kini mampu bersaing. Kajian-kajian gender dan feminis seakan menjamur. Akses belajar dan informasi yang semakin mudah membuat perempuan yang rebahan didalam rumah mampu menghasilkan uang bahkan mampu menopang ekonomi keluarga. Terlebih lagi para aktifis perempuan semakin banyak, perempuan tampil diranah publik pun semakin banyak. Cantiknya perempuan sekarang bukan lagi menomorsatukan penampilan dan wajah, tapi isi otak dan sumbangsihnya untuk masyarakat sekitar. Begitulah pendidikan mempengaruhi jalan hidup perempuan dari masa ke masa. Kita akan lihat, seperti apa posisi dan pengaruh perempuan dimasa depan.
Lalu posisi cantik fisik, masih pentingkah?

Perempuan memang perlu cantik. Cantik membuat perempuan lebih dihargai. Perempuan cantik biasanya lebih diperhatikan dan didahulukan. Bukan tanpa alasan, fitrah manusia memang menyukai keindahan. Kata Najwa Shihab “Kecantikan juga jangan hanya diartikan kata benda, tapi kecantikan adalah kata kerja. Karena perempuan memang bukan pemandangan, dan kecantikan bukan untuk diperlombakan”.

Namun menurut saya pribadi, pintarlah yang membuat perempuan cantik. Perempuan cantik adalah perempuan yang memaksimalkan otaknya, tidak melulu ditaklukkan perasaannya, tidak merasa kemampuan dirinya lebih rendah dari kemampuan laki-laki. Perempuan cantik adalah perempuan yang orientasi hidupnya tidak hanya memikirkan bagaimana menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, tapi perempuan yang memikirkan harus berkontribusi apa untuk agama dan negeri. Perempuan cantik adalah dia yang berani merancang akan dibentuk seperti apa generasi-generasi baru dan tampil dengan ide-ide cemerlang sebagai perempuan berpendidikan. Terlalu sia-sia otak perempuan hanya digunakan memikirkan urusan dapur dan bumbu-bumbu masakan. Ide perempuan atau laki-laki adalah sama berharganya.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami