SAYA LALUI BERBAGAI UJIAN DEMI INGIN MENJENGUK IBU YANG SEDANG SAKIT

Kabar ibu sakit, saya terima dari Kak Marwan tanggal 14 Juli 2021. Sungguh ini mengejutkan hati, dimana Kak Marwan dengan detail menceritakan kronologis ibu sakit.

Pada hari Ahad tanggal 11 Juli 2021 setelah shalat Ashar berjamaah di mushalla Alimudin, Kak Marwan dan keluarga bertanya-tanya “kemana ibu kok tidak ikut shalat Ashar berjamaah seperti biasa?”. Maka kak Marwan dengan segera pulang dari mushalla untuk melihat keadaan ibu di rumah. Kak Marwan memanggil ibu berulang kali dari luar, tapi kok tidak ada jawaban, sementara mau masuk pintu rumah terkunci.

Akhirnya kak Marwan sangat khawatir dan panik tanpa berpikir panjang pintu rumah didobrak, ditendang dan dipukul berulangkali sampai tidak disadari tangan kanan kak Marwan luka dan tersobek cukup dalam, ternyata pintu tersebut tidak juga bisa terbuka. Akhirnya kak Marwan mengambil balok lalu dihantam sekuat-kuatnya barulah pintu tersebut terbuka.

Kak Marwan langsung masuk dan mencari dimana ibu berada. Betapa terkejutnya kak Marwan melihat ibu yang sedang jatuh terkapar didekat pintu dapur. Kak Marwan bertanya kenapa ibu jatuh? Ibu tidak menjawab apa-apa selain rintihan ibu yang menyayat hati. Tanpa berpikir panjang kak Marwan segera menggendong ibu untuk diletakkan di ruang sangkok (ruang tamu) lalu ditidurkan dengan hati-hati.

Kemudian kak Marwan segera memanggil keluarga untuk melihat keadaan ibu dan ingin mengetahui apa yang terjadi. Pada baju dan pakaian ibu saya banyak terkena darah, kak Marwan menyangka ibu terluka parah. Setelah dicek ternyata darah itu bersumber dari luka tangan kak Marwan yang cukup dalam karena menghantam pintu dengan panik dan tidak terkontrol. Sedang ibu saya tidak mengeluarkan darah sedikitpun. Tetapi kondisi fisiknya lemah, tidak bisa banyak bicara hanya merintih menahan rasa sakit.

Melihat keadaan demikian, dengan sigap kak Marwan menghubungi dengan menelpon petugas kesehatan dari puskesmas desa Sikur yang bernama pak Agus. Pak Agus ini biasa dipanggil oleh masyarakat setempat bila ada yang sakit dan membutuhkan penanganan segera. Kemudian pak Agus mengukur tensi darah ibu saya ternyata mencapai 190/100, maka pantaslah ibu saya jatuh dan kehilangan keseimbangan. Pak Agus memberikan resep obat penurun darah tinggi dan akan dipantau beberapa hari ke depan, semoga keadaan lebih baik dan tensi darah bisa normal kembali.

Setelah kak Marwan menceritakan keadaan ibu di Lombok, saya mencoba menenangkan diri tapi nurani saya berkata lain harus segera pulang untuk menjenguk dan mendoakan secara langsung kesembuhan dari penyakit yang beliau sedang alami.

Melihat kondisi keuangan yang tidak memungkinkan apalagi di era pandemi yang sulit ini, saya terus berdoa semoga Allah memberi jalan untuk dapat pulang kampung menjenguk ibu tercinta.

Alhamdulillah dengan kebesaran Allah pada hari Kamis, 15 Juli 2021 ada seorang dermawan bernama Ibu Yessy, dimana dulu saya pernah mengajar lama di rumahnya dan TPA Mushalla An Nur yang berada di sekitar rumah kediamannya. Ibu Yessy dengan tulus membantu kepulangan saya setelah mendengar cerita tentang keadaan ibu di Lombok. Ibu Yessy ini tinggal di jalan Swadaya, Duren Sawit Jakarta Timur bersama suaminya Bapak Dian M. Noer yang merupakan putra dari seorang politikus Indonesia Prof. Dr. H. Deliar Noer MA yang sangat religius dan terkenal dengan berbagai karya buku ilmiyah yang ditulisnya dan menjadi rujukan bagi kalangan akademisi dalam dan luar negeri.

Setelah menerima bantuan biaya dari Ibu Yessy, tanpa berpikir panjang keesokan harinya Jumat, 16 Juli 2021 saya langsung mengikuti rapid test antigen di klinik Tiara Bunda sekitar tiga kilo dari perumahan tempat saya tinggal. Saya mengikuti rapid test antigen sesuai saran salah seorang tetangga yang biasa keliling Indonesia dalam suatu tugas dari kantornya. Pihak petugas di klinik Tiara Bundapun menyatakan boleh menggunakan rapid test antigen sebagai persyaratan menaiki pesawat menuju Lombok. Setelah menunggu selama satu jam, hasil test menyatakan saya negatif covid-19. Maka saya bersyukur Alhamdulillah, lalu dengan segera saya memesan tiket pesawat secara online melalui jasa Traveloka dari Jakarta ke Lombok.

Istripun dengan segera mempersiapkan segala sesuatu seperti makanan, pakaian, obat-obatan dan lain-lain. Semua dikemas dalam satu kardus ditambah tas gemblok. Lalu istri memesan mobil grab untuk diantar ke bandara Soekarno Hatta. Sekitar pukul 22.50 menit saya berangkat ke bandara setelah berpamitan dengan istri dan anak tercinta.

Dalam perjalanan menuju bandara semua lancar, tepat pukul 12.15 menit saya sampai di bandara dengan selamat dan menginap di bandara sambil menunggu check in pesawat pukul 03.45 menit. Tetapi setelah itu ada beberapa tantangan dan ujian yang tidak terduga yang akhirnya saya gagal terbang hari Sabtu, 17 Juli 2021 pukul 06.10 WIB.

1. Tiket pesawat ditolak dan tidak jadi berangkat.

Alasannya karena tidak menyertakan test PCR, walaupun saya sudah menyertakan tes antigen dan sertifikat vaksin dua kali.

Saya tidak tahu kalau menggunakan test antigen tidak dapat digunakan untuk pesawat terbang. Saya berkeyakinan bahwa hasil test antigen itu bisa dipakai sebagai syarat untuk pergi menggunakan pesawat terbang berdasarkan petunjuk dari tetangga yang biasa pergi bolak balik ke berbagai wilayah di Indonesia. Terbukti pada pemeriksaan pertama hasil test antigen saya divalidasi oleh petugas. Demikian juga ketika check in dan menuju pemeriksaan ruang tunggu juga aman dan lancar. Tetapi anehnya ketika para penumpang dipersilahkan naik ke pesawat disini petugas menolak pemberangkatan saya karena menggunakan rapid test antigen bukan PCR.

Disini saya sempat adu argumen dan mengkritik tindakan petugas dengan mudahnya menggagalkan pemberangkatan saya. Seharusnya kalau memang tidak boleh menggunakan antigen mestinya dari pemeriksaan 1 petugas mencegah dan tidak bisa divalidasi. Tapi rupanya petugas tersebut tetap bersikukuh dengan mengatakan ini kebijakan pemerintah, padahal saya sudah berusaha menjelaskan tentang kondisi darurat ibu saya di Lombok sedang sakit parah. Apa boleh buat saya tidak bisa berbuat apa-apa walaupun sebenarnya hati kecewa dan tidak terima dengan perlakuan petugas tersebut.

2. KTP hilang di bandara.

Hilangnya KTP di bandara ini karena petugas ruang tunggu bolak balik membawa KTP saya, benar-benar saya kecewa dan tidak fokus. Apakah KTP tersebut jatuh atau terselip entah dimana. Saya sudah mencari dan menanyakan kepada para petugas disana dan menyisir keberadaan KTP sepanjang perjalanan yang saya lewati, tetapi KTP tersebut tidak saya temui. Semoga ada hamba Allah yang jujur hatinya mau mengembalikan KTP saya yang sangat penting itu.

3. Tertipu Calok di terminal terpadu Pulo Gebang.

Setelah gagal pulang kampung dengan pesawat, saya berinisiatif menggunakan jalur darat. Saya teringat ada bus yang bisa digunakan untuk pergi ke Lombok, maka tanpa banyak berpikir pukul 13.00 saya naik bus DAMRI menuju terminal Rawangun. Dari terminal Rawamangun naik mobil angkot 25 menuju terminal terpadu Pulo Gebang. Sesampai disana ada seorang Calok mengaku petugas resmi dari terminal dengan menunjukkan kartu identitasnya.

Saya yang dalam kondisi banyak pikiran dan tidak fokus karena gagalnya terbang dengan pesawat, tanpa ragu mengikuti arahan calok tersebut akhirnya saya bayar melebihi dari standar harga aslinya. Setelah saya bertanya kepada penumpang lain yang kebenaran sama-sama mau ke Lombok ternyata bayarnya tidak sebesar itu karena dia menggunakan pembayaran online.

Lagi-lagi saya pasrah dan berusaha mengikhlaskannya yang penting nanti saya bisa pulang dengan selamat bertemu dengan ibu tercinta di kampung.

4. Menunggu 4 jam di agen bus Rasa Sayang

Setelah perjalanan melelahkan dari terminal terpadu Pulo Gebang berangkat pukul 15.00 hari Sabtu, 17 Juli 2021 sampai di agen bus Rasa Sayang di Surabaya Ahad, 18 Juli 2021 sekitar pukul 06.45. Disini saya bersih-bersih, mandi dan sarapan. Saya pikir istirahatnya tidak lama, ternyata sekitar 4 jam saya dan para penumpang menunggu sampai pukul 10.20 menit. Rupa-rupanya mesin bus tersebut di check dan diservis beberapa komponen yang dipandang perlu untuk diperbaiki demi keselamatan para penumpang.

5. Menunggu 5,5 jam di terminal Purbaya Surabaya.

Pukul 10.20 menit bus Rasa Sayang jurusan Lombok, Sumbawa dan Bima ini melanjutkan perjalanan menuju terminal Purbaya yang merupakan terminal terbesar di kota Surabaya sebagaimana penjelasan salah seorang penumpang. Sekitar pukul 11.30 bus sampai di terminal Purbaya menuju pemberangkatan pelabuhan kelas 3 Tanjung Wangi, Ketapang, Jawa Timur. Sebelum berangkat ke pelabuhan disini kami menunggu sekitar 5.5 jam dari pukul 11.30 – 16.50. Sungguh penantian yang cukup lama tapi saya dan para penumpang dengan sabar dan setia menunggu demi untuk dapat pulang ke kampung halaman.

Saya dan para penumpang Rasa Sayang dengan setia dan sabar menunggu berjam-jam di terminal Purbaya, Surabaya

6. Ketinggalan dompet di loket pemeriksaan dokumen

Saya dan para penumpang menuju tempat pemeriksaan dokumen seperti KTP, sertifikat vaksin dan validasi rapid test antigen. Setelah selesai pemeriksaan saya mengeluarkan identitas berupa SIM dari dompet saya. Karena terburu-buru apalagi sudah dipanggil oleh kenek dari bus Rasa sayang, tanpa disadari dompet tertinggal di loket pemeriksaan.

Setelah naik bus Rasa Sayang menuju tempat prapid test antigen, saya mencari dompet di tas mini dan dalam kantong celana, ternyata tidak ada. Rasa resah dan galau berkecamuk dalam jiwa dimana dompet saya berada. Setelah diingat-ingat saya meyakini dompet itu tertinggal di loket pemeriksaan dokumen.

Setelah bus Rasa Sayang sampai di tempat pembuatan rapid test antigen, saya buru-buru mencari tukang ojek yang kebenaran ada disekitar sedang menunggu penumpang. Saya minta tolong kepada salah seorang tukang ojek untuk dapat mengantar saya ke loket pemeriksaan dokumen untuk memastikan bahwa dompet saya tertinggal di sana.

Setelah sampai disana sekitar 5 menit, alhamdulillah dompet diamankan oleh petugas loket, lalu saya minta dompet tersebut. Sebelum petugas memberikannya, terlebih dahulu menanyakan nama saya dan menyesuaikan dengan nama yang tertera dalam kartu identitas yang ada di dalam dompet tersebut.

Suasana malam hari yang dingin saat menunggu penyebrangan dari pelabuhan Tanjung Wangi menuju pelabuhan Lembar, Lombok

7. Penyeberangan dari pelabuhan Tanjung Wangi menuju pelabuhan Lembar, Lombok memakan waktu 12 jam.

Setelah sampai di pelabuhan Tanjung Wangi, Ketapang, Banyuwangi, kami menunggu selama 6 jam dari pukul 22.30 sampai 06.30 pagi. Disela-sela menunggu kami mengurus untuk rapid test antigen sebelum naik kapal laut.

Suasana santai para penumpang menikmati perjalanan panjang menggunakan kapal Verry yang sejuk, nyaman dan bersih

Sekitar pukul 06.30 hari Senin, 19 Juli 2021 bus Rasa sayang dan para penumpang masuk ke kapal Verry yang sudah standby sekitar satu jam yang lalu. Sekitar pukul 07.15 kapal Verry berangkat menuju pelabuhan Lembar, Lombok yang memakan waktu diperkirakan 12 jam.

Menikmati indahnya perjalanan di tengah laut yang indah dan luas sebagai hiburan atas lelahnya perjalanan panjang ini

Saat ini saya dan seluruh penumpang bus Rasa Sayang masih menikmati perjalanan panjang menuju pelabuhan Lembar, Lombok. Walaupun perjalanan berliku-liku dan melelahkan, tapi saya bersyukur kepada Allah bisa pulang ke Lombok menjenguk ibu yang sudah tua dan dalam kondisi sakit.

Semoga perjalanan saya yang panjang dengan berbagai ujian dan tantangan dapat menjadi pembelajaran yang berharga khususnya bagi keluarga, anak cucu, teman-teman seperjuangan dan para pembaca setia media Sinar5News.com. Dan semoga Allah selalu menjaga dan melindungi perjalanan ini, sehingga kami sampai di kampung halaman dengan sehat, lancar dan selamat. Aamiin

Indonesia, 9 Dzulhijjah 1442 H/19 Juli 2021 M

Penulis : Marolah Abu Akrom

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami