CERPEN (14) TECI KHAS BANDUNG OLEH : ABDUL QUDDUS AL MAJIDI (SISWA KELAS 9 SMP NW JAKARTA)

Pagi menjelang siang yang cerah ini, aku bersama temanku pergi ke SUROPATI RESIDENCE. Sebuah perumahan yang cukup besar dan banyak sekali binatang yang terlihat. Kuda, harimau, bahkan patung dinosaurus pun ada disana. Ku kayuh sepedaku dan berhenti di sebuah patung gorilla. Tak ada yang menaikinya. Kasihan sekali gorilla itu. Berhenti dan jalan lagi, berputar keliling perumahan dan kesana-kesini tiada henti. Akhirnya aku capek dan jajan di pinggir jalanan.

“Bang, beli teci yuk bang!” Kata temanku bernama Yusuf.
“Peci?”
“Bukan, teci bang, bukan peci.”
“Apaan tuh? Sudahlah, coba aja dulu. Kayaknya enak.” Kataku.
“Saya 2 ribu.” Yusuf membelinya pada ibu-ibu tersebut.
“Sama bu, saya juga. Tapi gak pedes ya bu.”
“Ini pake bumbu asin gak tong?” Kata ibu itu.
“Pake bu.”

Setelah diproses dengan suhu panas pada kompor, 2 tusuk teci hangat siap dihidangkan.

“Enak banget bu, tecinya.” Yusuf berkata dengan mulut belepotan saus.
“Bu, teci itu dari mana asalnya bu?” Tanya saya.
“Ini khas Bandung tong. Cuma makanan ringan aja ini mah.” Kata penjualnya.
“Oh. Saya satu lagi deh bu!”
“Bentar ya tong.”
Hmm, bentuknya bulat-bulat seperti bola pingpong. Asin dan nikmat. Kayak cireng ini, tapi bedanya ditusuk kayak sate.
Gumamku.

Selanjutnya, aku pulang untuk ambil duit lagi bersama Yusuf, dan balik lagi untuk beli teci.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami