Khutbah Jumat : Izzah Beragama Izzah Berbangsa Habib Ziadi Thohir, M.Pd (Ketua PD NWDI Loteng dan Masyarakat Cinta Masjid Loteng)

اَلْحَمْدُ لِلّٰه، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Pada kesempatan mulia ini marilah kita bersama-sama lebih memantapkan hati kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Marilah kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan teguh dalam pendirian serta mampu mengendalikan diri dalam berbagai masalah kehidupan yang kita hadapi.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Dikisahkan bahwa Panglima Islam yang masyhur, Khalid bin Walid mengirim sepucuk surat kepada Kisra Sang raja Persia. “Masuk Islamlah maka engkau akan selamat, jika tidak maka aku akan mengepung dan menyerbu kalian bersama tentara yang mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan.”
Setelah Kisra membaca surat tersebut, segera ia mengirim surat memohon bantuan kepada seorang Kaisar di Cina.
Kaisar di Cina itu menjawab, “Kami tidak memiliki kekuatan seperti lawanmu itu. Sekiranya mereka hendak mencabut gunung sekalipun, mereka mampu mencabutnya.”
Sejarah kita penuh dengan sejarah kepahlawanan. Pahlawan Islam kita adalah lambang keberanian dan kemurnian dalam perjuangan. Tidak ada kata takut, gentar, mati kutu, ciut nyali, dan basa-basi dalam tradisi heroisme mereka. Itulah yang membuat musuh mereka berkeringat dingin dan hilang semangat jika mendengar nama mereka.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Itulah gambaran tentang Izzah. ‘Izzah adalah kemuliaan, kehormatan, kebanggaan. ‘Izzatul Islam adalah kemuliaan Islam, kehormatan Islam, kekuatan Islam, kabanggaan Islam. ‘Izzah hanyalah milik Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, seperti dinyatakan dalam Alquran.

Allah SWT berfirman :
. وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah
bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun : 8]
Dalam Firman-Nya ini Allah menyatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang Maha Perkasa dan Bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kekuatan dan kedigdayaan, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah. Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat. Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah.

Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Sebagai pribadi kita harus memiliki Izzah. Bahwa siapapun tidak boleh menghinakan dan meremehkan diri kita. Sebab pada dasarnya manusia seluruhnya terhormat. Meski tentu kita sebagai pribadi harus menampilkan sosok pribadi yang layak dihormati dan disegani.

Sebagai bangsa pun kita harus memiliki izzah. Tanpa izzah bangsa kita akan dipecundangi dan dihinakan bangsa lain. Kekayaan dan Kedaulatan kita menjadi rebutan dan klaim bangsa lain. Padahal dahulu para pahlawan kita dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa didasari atas Izzah dan semangat jihad yang tinggi. Jika bukan karena itu, maka nama Indonesia tidak akan terdaftar menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Ingatlah saat Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya pada 10 November 1945. Pamungkas dari orasi Heroik beliau adalah :
“Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!”
seru Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api.

Jika bukan karena Resolusi Jihad KH. Hasyim Asyari maka tidak berdiri tegak Indonesia hari ini. Jika ulama dan cendekiawan Muslim lain macam KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, dan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid tidak bangkit dan gelisah akan kondusi ummat maka selamanya kita terhina dan terpuruk layaknya kaum yang terjajah.
Jika bukan karena tetesan darah syuhada para kiai dan santri maka merah putih tidak akan berkibar. Jika bukan karena
Kebanggaan umat terhadap Islam dan tuntutan berjihad membela tanah air, maka nama Indonesia hanya jadi nama di negeri dongeng.

Ingatlah para diplomat Muslim ulung kita seperti KH Agus Alim, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Abdul Rahman Baswedan, Mohammad Rasjidi, dan Sutan Nazir Pamoentjak. Berkat izzah yang ada dalam dada mereka, dunia mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Jika ada dari sebagian anak bangsa ini takut dengan kebangkitan Islam dan menggeliatnya tren kembali kepada spirit Islam, sesungguhnya mereka ingin mencabut dan memisahkan kaum muslimin dengan akar sejarahnya.

Jika ada sebagian anak bangsa melempar isu dengan membenturkan Islam dengan kebangsaan dan nasionalisme, sesungguhya mereka mengidap sindrom sekulerisme akut atau mungkim tidak baca buku dan berwawasan sempit. Semangat kaum Muslimin untuk memerdekaan bangsa ini adalah spirit dan membawa syiar keislaman. Para founding fathers kita menyakini dan mengakui itu dan mengabadikannya dalam pembukaan UUD 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Kaum muslimin dituntut mencintai tanah airnya sama seperti mencintai dirinya dan keluarganya. Kata TGB Dr M. Zainul Majdi, “Antara keislaman dan kebangsaan bagaikan satu tarikan nafas, tidak bisa dipisahkan.”

Ada pula yang menuduh kaum Muslimin yang memilki izzah dan menampakkan syiar keislamannya dengan radikalis, fundamentalis, dan anti pancasila padahal jika ada kekuatan asing yang merongrong kedaulatan bangsa ini, maka kaum yang tertuduh itu adalah orang pertama yang merasa terusik jiwa raganya. Padahal yang berteriak dan menuduh seperti itu ternyata doyan berbagi proyek dan fee hasi korupsi uang rakyat.

Dalam Wasiat Renungan Masa, TGKH M Zainuddin Abd. Madjid menulis :
Negara kita berpancasila
Berketuhanan Yang Maha Esa
Ummat Islam paling setia
Tegakkan sila paling utama

Maka jangan sampai Izzah terhadap Islam dan syiar keislaman dicurigai berlebihan dan dibenturkan dengan nasionalisme atau Pancasila. Seperti isu yang tengah hangat beberapa pekan terakhir tentang pertanyaan wawasan kebangsaan berupa memilih harus salah satu PANCASILA atau AL QURAN. Sebuah pertanyaan yang mengundang protes bukan saja penikmat kopi di warung kopi bahkan para guru besar pun ikut angkat suara.

Jangan sampai kita terkecoh oleh isu murahan yang mengejek kaum muslimin Indonesia sebagai penganut Islam Arab, ajaran impor, anti pancasila, kadal gurun/kadrun,dan sejenisnya sebab para pelempar isu itulah kaum perusak harmonisasi negeri ini, pembuat onar, perusuh, bahkan aktor yang terlibat memiskinkan rakyat secara struktural dan sistemik.

Allah SWT berfirman :

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (QS. Ali Imran 139)

Jangan ciut nyali, tertipu, terperdaya syubhat murahan, apalagi merasa diri hina. Berbanggalah bahwa dengan izzah Islam, amal salih (kontribusi), dan cinta tulus pada negeri ini Allah akan menolong kita. Allah akan mengangkat derajat kita. Allah akan mengembalikan bangsa ini pada kejayaan seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa kita. Cintailah negeri ini dan berbuatlah terbaik. Jika kita berbuat yang terbaik untuk Islam maka secara otomatis kita sudah memberi andil yang positif bagi kemajuan bangsa dan negara. Seperti wasiat Tuan Guru Zainuddin :

Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agarlah hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami