TAUSIYAH TGB DR. KH. MUHAMMAD ZAINUL MAJDI, MA PADA ACARA HALAL BIHALAL HIMALO

Banyak sekali mutiara-mutiara ilmu yang disampaikan TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA pada tausIyah acara Halal Bihalal yang dilaksanakan oleh organisasi HIMALO (Himpunan Masyarakat Lombok) di Pondok Pesantren NW Jakarta pada hari Ahad, 16 Mei 2021 M/4 Syawal 1442 H pukul 20.00 WIB yaitu;

1. Taqabbalallahu Minna wa minkum, semoga Allah menjadikan hari raya ini dan hari-hari berikutnya pada bulan Syawal ini menjadi hari yang diberkahi untuk kita semua mohon maaf lahir dan batin. Saya sebagai pribadi dan kita semua saya yakin juga satu sama yang lain kita saling maaf-memaafkan dan saling doa mendoakan.

2. Alhamdulillah wasyukrulillah tadi kita sudah simak sambutan dari para tokoh kita. Menurut saya sesungguhnya itulah esensi dari silaturahim halal bihalal kita, bukan tausiah ini sebenarnya. Tapi kita bisa mendengar suara saudara-saudara kita satu sama lain, kita bisa melihat wajahnya walaupun secara virtual. Dan saya juga menyaksikan dalam silaturahim halal bihalal ini banyak sekali sahabat yang sudah bertahun-tahun saya tidak berjumpa, itu bisa saya lihat wajahnya, alhamdulillah.

3. Saya sebagai salah satu masyarakat Nusa Tenggara Barat, Bapak saudara-saudaraku kita semua bersaudara dan saya bersyukur pada malam hari ini kita masih bisa bersilaturahim dan ini adalah suatu nikmat yang menurut saya perlu untuk kita terus jaga dan kita pupuk dalam situasi apapun, entah itu cobaan pandemi ataupun dalam situasi apapun yang tidak biasa. Kita tetap mentradisikan untuk bersilaturahim antara satu dengan yang lain.

4. Allah subhanahu Wa Ta’ala di dalam Alquran berulang kali menjadikan silaturahim atau menjaga hubungan yang ada atau menyambung kembali hubungan yang putus itu dijadikan sebagai salah satu esensi yang berulang-ulang disebutkan di dalam Al Quran. Bahkan disebutkan di dalam surat Ar Ra’d ayat 21 sebagai salah satu dari sifat Ulul Albab;

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”.

5. Mereka yang terus-menerus dalam situasi apapun untuk tetap melakukan kegiatan shilaturrahim (yufiidud dawaam wal istimraar). Pada malam hari ini kita tidak bisa bersilaturahim langsung secara offline, tetapi Alhamdulillah berkat ilmu dan teknologi kita bisa bersilaturahim secara virtual. Mudah-mudahan ini menunjukkan bahwa kita masih punya katakanlah sebagai intangible asset yaitu suatu aset yang sangat diperlukan pada masa-masa seperti ini.

Kalau kita bicara tentang aset dalam bahasa secara umum itu orang sering mempersepsi bahwa aset itu sebagai hal yang bisa dipandang kasat mata. Kalau kita bicara tentang pendidikan yang terbayang di kepala kita sebagai aset itu gedung-gedung pendidikannya. Kalau kita bicara tentang aspek spiritualitas yang sering terbayang adalah Masjid mushola dan tempat-tempat peribadatannya. Tapi di dalam Islam kita diajarkan bahwa aset itu tidak hanya hal-hal yang kasat mata. Ada hal-hal dibalik yang kasat mata itu hal-hal yang tidak bisa dilihat, tapi itu ada dan itulah tatanan nilai. Di dalam ungkapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum” ”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati kalian” (HR. Muslim). Bahasa kita sekarang ringkasnya secara sederhana Allah itu tidak melihat kepada hal-hal yang sifatnya lahirnya saja tapi Allah lebih mementingkan yang bersifat asset batiniyah.

6. Nah saya merasa bapak-bapak dan ibu saudara sekalian, ukhuwah atau persaudaraan kita sebagai warga NTB, hadir di sini Bapak Gubernur, para bupati, para pimpinan Himalo, tokoh-tokoh yang berkiprah di Jakarta seperti Bapak perwira tinggi polisi Bapak Dirjen Hadi Gunawan, ada para pejabat eselon tinggi di Jakarta di kementerian demikian banyak, tokoh-tokoh masyarakat, semuanya bersedia untuk hadir meluangkan waktu untuk saling bertatap muka secara virtual. Ini menunjukkan kita masih punya aset yang berharga untuk NTB yaitu ukhuwah persaudaraan. Saya pikir ini yang paling esensial dalam pertemuan pada malam hari ini bahwa dengan persaudaraan itu saya rasa tidak ada yang mustahil untuk kita tangani bersama. Apalagi dari penyampaian penasehat Himalo ada hajat untuk membangun Bale Blek istilahnya, yang menurut Himalo itu penting. Saya juga berpendapat kalau memang itu penting ya saya juga setuju itu penting, tapi bagi saya itu bukan yang paling penting. Bagi saya yang paling penting adalah kesediaan kita untuk terus merajut silaturahim membangun ukhuwah Lombokiyah atau NTBwiyah selain ukhuwah islamiyah dan wathaniyah. Nah level-level ukhuwah itu kita wujudkan dalam bukti nyata yang kongkrit dalam keseharian kita. Karena itu disini hadir para bupati sebagai wujud dari ukhuwah Lombokiyah atau NTBwiyah, kita membantu para bupati, membantu pak gubernur, membantu para pejabat pemerintah untuk bekerja.

7. Bagi saya yang kebetulan pernah menjabat sebagai gubernur Nusa tenggara Barat selama 10 tahun, saya mengetahui betul dan merasakan betul bahwa tidak ada artinya seindah apapun perencanaan pembangunan bila tidak ada tajawuf. Tajawuf itu tidak hanya partisipasi kalau bahasa Sasak kadang-kadang partisipasi bisa diartikan “milu-miluan”, tetapi tajawuf itu lebih dari partisipasi di situ hati ikut menjawab, di situ lahir batin juga ikut terlibat. Nah karena itu saya pikir kesempatan silaturahim pada malam hari ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk merawat yang sudah ada itu.

8. Perlu sekali bapak-bapak dan semeton semeton tiang untuk kita mengingat satu hal, kalau kita melihat dari sejarah biasanya pandemi itu melahirkan perubahan sosial yang luar biasa. Bahkan kalau di negara Barat itu pernah melahirkan “agama” dan kita baca sejarah pada abad ke-15 itu terjadi pandemi wabah black deth, akhirnya kemudian di situlah lahir gereja protestan sebagai bentuk protes ketika dilihat bahwa Gereja Katolik ternyata tidak mampu merespon dan tidak mampu menjawab kegelisahan masyarakat. Dimana-mana mayat bergelimpangan, agama tidak dianggap dan tidak bisa memberikan jawaban, maka lahirlah kemudian satu pemahaman “agama protestan”. Dengan melihat perubahan ini artinya betapa dahsyatnya pengaruh pandemi ini.

9. Kita juga tahu sekarang pemerintah baik pusat maupun daerah sedang bekerja keras untuk menuntaskan pandemi ini. Kita sebagai masyarakat menurut saya tidak ada yang lebih pantas yang kita lakukan selain kita mengikuti arahan-arahannya. Dan jangan lupa bahwa dalam Islam tha’atu ulil amri (menaati pemerintah) itu bagian satu nafas dalam satu ayat yaitu taat Allah, taat Rasul dan taat kepada ulil amri. Karena itu walaupun istilahnya prokes, walaupun istilahnya 5 M, itu kita anggap sebagai istilah yang lahir dari pemerintah. Tapi kalau kita lihat dari sudut pandang Islam itu mentaatinya adalah bagian dari ibadah, kalau kita niatkan itu untuk menjaga keselamatan kita bersama. Ini saya sampaikan kepada kita semua bahwa sangat penting bagi kita dalam situasi seperti ini menghadapi perubahan yang luar biasa.

10. Wallahu a’lam kita tidak tahu di NTB yang kita cintai, pulau Lombok, pulau Sumbawa atau di Indonesia seperti apa nanti perubahan besar yang hadir pasca pandemi yang kita masih belum tahu kapan berakhirnya. Tapi yang jelas apapun bentuk perubahan yang besar itu membutuhkan respon yang kuat dari kita sendiri dan modal untuk merespon itu adalah terus meneguhkan persaudaraan kita.

11. Syukran katsira, terima kasih, saya orang yang selalu optimis kepada Lombok, kepada NTB dan juga bahkan kepada Indonesia, saya yakin dan percaya in sya Allah dengan banyaknya ulama-ulama kita yang tadi penasehat Himalo menyampaikan kita itu punya banyak huffazh, banyak tuan guru, saya yakin betul bahwa doa-doa dari beliau-beliau, spiritualitas yang dibina oleh para tuan guru kita, majlis-majlis ta’lim yang bertebaran di NTB, semua itu menjadi penyangga untuk keselamatan kita bersama. Maka bersyukurlah kita menjadi bagian dari masyarakat yang mulia ini, mari kita jaga kemuliaan itu bersama-sama. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih mohon maaf lahir dan batin taqobalallahu Minna wa minkum, wallahul muwaffiqu wal haadi ilaa sabilirrasyad. (Redaksi)

Bekasi, 5 Syawal 1442 H/17 Mei 2021 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami