NASEHAT PUASA HARI KE 20 NIKMATNYA I’TIKAF DI MASJID

Oleh : Abu Akrom

Agama Islam adalah agama yang sangat luhur dengan segala ajaran yang ada di dalamnya. Dikatakan ajarannya sangat luhur karena mencakup segala aspek kehidupan dan bertujuan untuk kebaikan umatnya, tidak hanya di dunia ini, tapi untuk akhirat nanti. Maka seorang muslim yang benar pemahamannya senantiasa dapat menampilkan keluhuran ajaran Islam dimana saja dan kapan saja tanpa ada rasa malu sedikitpun.

Ajaran Islam itu memperhatikan segala-galanya, baik yang bersifat lahir maupun yang bersifat batin. Hal-hal yang bersifat lahir itu terkait dengan ibadah lahiriyah yang telah disyariatkan kepada kita seperti shalat, puasa, haji, zakat dan lain sebagainya. Sedangkan hal-hal yang bersifat batin terkait ibadah batiniyah yang sudah diajarkan kepada kita seperti keikhlasan, kesabaran, kesyukuran dan lain sebagainya. Semua jenis ibadah ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Diantara jenis ibadah yang dapat menaikkan keimanan dan ketaqwaan kita yaitu melakukan i’tikaf di masjid terutama pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Itikaf itu artinya berdiam diri di masjid dan fokus hanya untuk ibadah kepada Allah. Dalam kita beri’tikaf hendaknya kita awali dengan niat yang ikhlas karena Allah semata, bukan karena niat-niat duniawi yang bisa menghancurkan pahala i’tikaf kita. Selama kita itikaf hendaknya memperbanyak melakukan ibadah ritual seperti salat, dzikir, taubat, membaca Al Quran, munajat dan belajar ilmu. Semua kegiatan yang sangat positif ini ini benar-benar dilaksanakan sebaik-baiknya, agar berdampak positif bagi peningkatan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kita melakukan i’tikaf itu karena mencontoh Baginda Nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak pernah meninggalkan i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan. Demikian juga istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

Ada suasana yang sangat nikmat dan penuh bahagia yang dirasakan bagi siapapun yang menyempatkan diri untuk i’tikaf di masjid. Beban-beban dunia dan masalah-masalahnya yang selama ini menghimpit jiwa, seketika sirna berganti dengan suasana yang penuh dengan kelapangan. Pikiran-pikiran ruwet dan sempit yang selama ini membelenggu jiwa seketika menjadi jernih dan tercerahkan. Disisi lain kita dapat berintraksi dengan saudara-saudara kita dengan melakukan komunikasi akrab yang penuh kehangatan melalui aneka diskusi, tukar pikiran dan berbicara santai dari hati-kehati tentang hal-hal yang bermanfaat. Inilah Islam dalam hal apapun senantiasa mengutamakan kebersamaan dalam jalinan persaudaraan yang diikat oleh tali aqidah yang sangat kuat, sehingga terbina persatuan yang kokoh dalam segala keadaan.

Bekasi, 20 Ramadhan 1442 H/2 Mei 2021 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami