NOVEL (3) CINTA YANG BERSATU OLEH : ABDUL QUDDUS AL MAJIDI (SISWA KEAS IX SMP NW JAKARTA)

Disaat yang sama, adiknya Reza tidak jadi masuk sekolah. Mungkin karena ulah pacarnya itu, jadinya dia gak masuk kelas di SMP Negeri 9 Jakarta Timur. Ia menjadi buronan beberapa guru karena sering gak masuk.

“Mana Anisa? ” Tegas guru tersebut. Salah satu siswa di kelas itu menjawab,
“Bu, palingan Anisa sama Farhan lagi pacaran bu di belakang sekolah. Saya tadi lihat mereka bu, udah mejeng disana. ” Ucapnya.
“Cepat panggil mereka kesini! Kecil-kecil udah pacaran. Cepet panggil Anisa! ” Omel guru itu.

Siswa tersebut cepat-cepat menuju belakang sekolah tempat mereka ber-khalwat, alias pacaran. Dari kejauhan, terdengar sesuatu dari belakang sekolah.
“Sayang, aku cinta kamu.” Ucap lelaki itu. “Iya sayang, aku juga cinta kamu kok. ” Kata Anisa ke pria itu. Seorang murid yang mendengarnya menggelengkan kepalanya.
“Eh, lu berdua. Dipanggil noh sama Bu Silfia di kelas. Cepetan! ” Katanya dengan tegas.
“Ah, lu banyak ngomong lu ya. Udah sana! Gua lagi ada urusan sama Anisa dulu. Bilang ke Bu Silfia, gue gak mau ketemu sama dia! ” Gerutu Farhan. “Sayang, udah ayo kita ke kelas. Daripada kita disini mulu berduaan. Aku gak enak jadinya sama Bu Silfia kalo kita terus-terusan disini…” Anisa memelas.

Sesungguhnya, dia juga tak mau berlama-lamaan, apalagi bareng pacar. Dia merasa ‘dipaksa’ untuk tidak masuk jam pelajaran gara-gara Farhan, teman sekelasnya.
“Bentar lagi ya. Baru jam setengah 8. Sini aja dulu Anisa ya, Anisa yang cantik. ” Ucap Farhan sambil melihat jam di lengan kirinya. Anisa tidak berkutik saat bicara padanya. Kemudian, laki-laki yang disuruh Bu Silfia akhirnya balik ke kelas. Ia menceritakan semua yang diapain ya saat memanggil mereka.

“Oh… Yaudah, biarin mereka berdua. Kalau sampe jam 8 tepat gak masuk-masuk kelas, akan ibu hukum. Dari kemaren masih aja tuh anak pacaran disana. Oke anak-anak, buka halaman 18 tentang sistem koordinat! ” Ungkap Bu Silfia marah. Bagaimana beliau gak marah, kalau muridnya lebih memilih pacarnya daripada belajar. Dia sudah berprasangka baik terhadap kedua muridnya itu. Berharap Anisa dan Farhan berubah menjadi lebih baik, tetapi nyatanya tidak demikian. Setelah cukup lama menunggu, guru itupun turun tangan menemui mereka berdua. Tanpa basa-basi lagi, ia langsung memanggil mereka untuk dihukum.
“Kalian, ikut ibu! ” Perintahnya.
“Kita mau kemana bu? ” Tanya Farhan.
“Farhan, aku takut… ” Ucap Anisa yang berjalan paling belakang.
“Jangan banyak ngomong, pokoknya ikut ibu! ”

Tidak membutuhkan waktu lama, sampailah mereka di ruang BK. Tempat yang sangat mengerikan bagi orang yang takut berbuat masalah. Tapi bagi Farhan, sudah biasa bolak-balik ke ruangan itu.
Kenapa harus Bu Silfia sih yang manggil ke sini?
Pikir Anisa. Sesampainya disana, ditanyakanlah hal yang dua orang ini lakukan di belakang sekolah.

“Anisa, ibu mau tanya. Manfaat pacaran itu apa kalau kamu tahu? ” Tanya Bu Silfia yang saat ini kemapuan analisisnya meningkat 25 %. Seolah detektif Conan ada dalam dirinya, Anisa sejenak diam. Dia bingung ingin jawab apa karena dia sendiri tak tahu pacaran itu bermanfaat apa enggak. Sementara Farhan cengar-cengir tak karuan. Kesal dalam hatinya. Ia tak peduli dengan nasihat yang diberikan padanya.
“Anisa, ibu tanya sekali lagi, pacaran itu manfaatnya apa? ” Ucap guru BK itu dengan suara pelan.
“Saya gak tau bu, manfaat pacaran itu apa.” Jawab Anisa memelas.
“Kalau kamu Farhan, pacaran itu bermanfaat gak? ”
“Sama bu, saya gak tau. ” Ungkap Farhan ikut-ikutan.
“Terus, kenapa kalian sampe segitunya pacaran? Malah pas pelajaran ibu tadi, kalian gak masuk lagi. ”

Hening. Anisa dan Farhan sama-sama diam. Ada benarnya juga nasehat yang diberikan Bu Silfia. Memang pacaran itu tak ada gunanya sama sekali.
“Kalian gak tau, kalau sekolah kita ini sekolah terfavorit? Ibu ngerti kalian suka berduaan. Kita ini sekolah umum. Kamu mau pacaran apa enggak disini, gak bakal diomelin. Tapi kalau sampai berlebihan kayak gitu, ibu gak setuju. Sampai gak masuk berkali-kali cuma pengen berduaan sama pacar? ” Tanya beliau tegas.
“Terus, kalian mau berubah apa nggak? ” Lanjutnya.
“Iya bu. ” Jawab dua orang ini.
“Ya sudah, ibu maafin. Tapi, kalian ke lapangan dulu ya, sambil hormat bendera! ”
“Kita dihukum bu? ” Tanya Farhan
“Ya iyalah, kalian dihukum. Cepet sana! Lihat jam itu? Kalian boleh ke kelas kalau sudah jam 8:10 menit. 10 menit dari sekarang, cepat! Kalau enggak, ibu tambahin jadi 1 jam. ” Kata Bu Silfia naik pitam.
“Eh, iya bu, iya bu. ” Jawab Anisa.

Sesudah dihukum hormat bendera di lapangan, mereka kembali masuk ke kelas dengna badan berkeringat. Anisa tidak habis pikir dengan kelakuan Farhan. Ia tidak ingin berduaan terlalu lama. Malah gebetannya itu yang memaksanya ke belakang sekolah. Dia jadi ingat kalau kakanya, tidak pernah pacaran sama sekali. Sementara dirinya, masih SMP sudah berani-beraninya berduaan. Karena melihat Farhan dari fisiknya, Anisa pun menuruti semua keinginannya.
“Anisa cantik, kamu gakpapa? Mau aku gendong gak? ”
“Gak usah. Aku gak apa-apa kok. ” Jawab Anisa
Farhan duduk di pojokan kelas, sementara Anisa duduk di tengah kumpulan siswa ini. Lalu, Bu Silfia tidak masuk lagi ke kelasnya. Mungkin dia tengah kesal dengan tingkah mereka. Sementara itu, masih se-jam lagi bel istirahat dikumandangkan.
Udah capek, laper lagi nih perut.
Gumam Farhan sembari mengipasi badannya yang kepanasan.

Anisa merenung sejenak, apa dia terlalu nekat sama Farhan? Atau memang Farhan yang salah karena memaksa berduaan? Pikiran itu memenuhi isi kepalanya dan sampai sekarang masih belum mendapat jawaban dari dirinya sendiri.
“Eh Anisa, lu lagi mikirin apaan sih? ” Tanya seorang perempuan yang duduk sebangku dengannya.
“Gua lagi mikirin abang gua. Dia gak pernah pacaran dari dulu. Gua malah pacaran sama Farhan. Jadi bingung gua harus gimana lagi. ” Curhat Anisa.
“Siapa? Reza abang lu itu? ”
“Iya. Gua juga habis dihukum sama Bu Silfia di lapangan. Bareng cowok itu tuh. ” Tunjuknya ke pria yang duduk di bangku paling belakang.
“Sebenernya gua gak pengen pacaran lebih lama lagi. Tapi dia nya maksa gua Yunda. Kalo lu, pernah pacaran gak Yunda? ” Tanya Anisa kepada Ayunda, teman sekelasnya.
“Gak pernah. Mendingan lu tuh gak usah pacaran dulu. Jangan-jangan lu ikutin kayak Sella lagi?” Ungkapnya.
“Iya deh kayaknya. ” Jawab Anisa sedikit bingung
Apa gua terpengaruh sama dunia luar?
Batin Anisa.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami