Kunjungan Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani ke Pulau Lombok Bunga Rampai Haul ke-17 Abuya. Oleh: Habib Ziadi Thohir, M.Pd.

Diantara adab Islami dalam menjalin persaudaraan yang diajarkan adalah anjuran untuk saling ziarah atau saling mengunjungi saudara semuslim. Ini adalah adab yang indah yang dapat menumbuhkan cinta dan ikatan ukhuwah yang kuat diantara kaum Muslimin.

Saling mengunjungi karena Allah, dicintai Allah
Diantara kemuliaan akhlak seorang Muslim adalah senang mengunjungi saudaranya semuslim. Namun kunjungan ini bukan didasari semata kebutuhan dan keperluan duniawi, melainkan didasari rasa cinta kepada saudaranya karena Allah. Kunjungan saling mendoakan, berbagi ilmu, dan nasehat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567).

Dari hadits ditegaskan bahwa orang yang saling berkunjung karena Allah akan dicintai oleh Allah Ta’ala. Imam An Nawawi mengatakan:

فِيهِ فَضْلُ الْمَحَبَّةِ فِي اللَّهِ، وَأَنَّهَا سَبَبٌ لِحُبِّ اللَّهِ وَفَضِيلَةِ زِيَارَةِ الصَّالِحِينَ

“dalam hadits ini ada keutamaan saling mencintai karena Allah, dan itu merupakan sebab mendapatkan cinta dari Allah dan keutamaan mengunjungi orang shalih”

Awal Juli tahun 1986 silam, seorang ulama besar Kota Makkah yang masyhur di dunia, Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki melakukan safari dakwah ke Indonesia. Beliau memang memiliki banyak murid di tanah air, termasuk murid dari walid beliau, Sayyid Alawi Al-Maliki.

Satu diantara murid dari walid beliau adalah Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Abuya Prof. Dr. Sayyid Muhammad seorang ulama yang terkenal dengan multi disiplin ilmu keislaman. Beliau tidak saja Hafidz Al-Qur’an, namun faqih, ushuli, muarrikh, muhaddits, penyair, dan musnid. Secara nasab beliau adalah ahlu bait. Rantai keilmuan beliau pun bersambung kepada datuknya, Nabi Muhammad SAW.

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota Mekkah. Ia berasal dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal. Ayahnya beliau, As-Sayyid Alawi, seorang ulama terkemuka di Mekkah dan merupakan salah satu penasihat Raja Faisal, raja Arab Saudi. Di bawah bimbingan ayahnya, sejak kecil ia sudah belajar Al-Quran. Ayahnya wafat pada tahun 1971.

Abuya, biasanya Sayyid Muhammad bin Alawi dipanggil oleh para muridnya, pada safari dakwah kali ini berkomitmen berkunjung ke Lombok untuk menemui Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Mendengar kabar bahwa Abuya sudah berada di Surabaya, Maulanasyekh mengutus salah seorang muridnya sebagai duta untuk “menagih” komitmen Abuya. Murid itu adalah TGH. Muhammad Thahir Azhari, asal Merang Praya, walid (Bapak) penulis.

TGH. Thahir Azhari sempat tidak percaya diri pada awalnya karena banyak murid Maulanasyaikh yang lebih cakap dan hebat dibanding dirinya. Terlebih lagi tamu yang akan datang ini adalah seorang ulama besar keturunan Rasulululloh SAW. Seorang Alim Allamah, Muhaddits, Muarrikh, dan ahli dalam hampir semua disiplin ilmu keislaman.

Kemudian ia berhusnuzhan, mungkin karena dirinya sering bolak-balik Lombok-Surabaya untuk urusan bisnis, sehingga ia dianggap sudah hafal kota Pahlawan tersebut. Namun, tentu amanah (kepercayaan) dari Sang Maha Guru, yaitu Maulanasyekh sendiri tidak boleh disia-siakan. Akhirnya berangkatlah ia seorang diri ke Ibu kota Provinsi Jawa Timur itu.

Ayahanda TGH. M. Thahir Azhari menceritakan kepada penulis, “Bapak pertama jumpa Abuya (Sayyid Muhammad) di rumah murid beliau, KH. Muhiddin Nur di Panda ana’an, Surabaya. Ditunjukkan oleh seorang yang bernama Bin Hood. Ketika tahu kalau Bapak utusan dari Lombok, saat itu Bapak sedikit dihalangi oleh sebagian murid beliau, karena mereka sudah menyusun jadwal Abuya yang cukup padat di Jatim. Tapi Bapak berusaha menerobos, bahkan hingga berdebat sampai akhirnya diterima langsung oleh Abuya.”

“Respon Abuya sangat baik saat muwajahah dan setelah menyampaikan salam Maulanasyaikh, sambil Bapak memohon agar jadwal kunjungan ke Lombok yang sudah dijanjikan oleh beliau dapat dipenuhi dengan alasan bahwa Maulanasyekh sudah mengumumkan kepada warga NW dihampir semua madrasah. Akhirnya, Abuya menyanggupi dengan syarat disiapkan tiket pesawat (tujuannya demi melihat kesungguhan maksud dari penjemput), tanpa berfikir panjang, Bapak menyanggupi.”

Ayahanda TGH. M. Thahir melanjutkan kisahnya, “Pagi-pagi buta sebelum jam 8 kantor Garuda Airlines dibuka, Bapak sudah menunggu. Alhamdulillah Bapak dapat tiket untuk 6 orang untuk keberangkatan hari itu juga. Turut mendampingi Abuya, KH. Ihya’ Ulumiddin (Pimpinan Ha’iah As-Shofwah Malikiah pusat), Habib Hamid selaku pimpinan ponpes Darus Sholihin Pasuruan dan beberapa murid senior yang Bapak lupa namanya“.

Mendaratlah Abuya bersama rombongan dan ayahanda tentunya di Bandara Selaparang Rembige. Dari sana langsung bertolak ke Pancor Lombok Timur. Di Pancor, tepatnya di Musolla Al-Abror Maulanasyaikh berserta ribuan jamaah NW sudah menanti kedatangan Abuya. Abuya beserta rombongan akhirnya datang juga. Pada saat jumpa Maulanasyeikh, Abuya menyatakan, “Laula hadzar rojul ma azuruka” (Seandainya bukan karena orang ini (sambil menunjuk ayahanda) saya tidak mungkin bisa sampai berziarah kepadamu).

Turut menyambut saat itu Ketua Umum PBNW, Bapak Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, Amid MDQH, TGH. Lalu M. Yusuf Hasyim, Lc beserta seluruh masyaikh MDQH dan para asatizh di lingkungan Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Pancor Lombok Timur.

Dalam kesempatan tausyiah yang diterjemahkan oleh KH. Ihya Ulumiddin, Abuya menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli ilmu di kota suci Makkah, baik thullab maupun ulamanya yang tidak kenal ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Beliau adalah ulama besar yang bukan hanya milik ummat Islam Indonesia, namun milik ummat Islam sedunia.

Abuya juga menganjurkan agar Thullab NW jangan takut belajar hingga ke luar negeri, namun dengan syarat tetap memegang teguh Mazhab Ahlu Sunnah. Ambil ilmu seluas-luasnya, tapi jangan lupa pada aqidah yang diajarkan guru besar NW, Syekh Zainuddin Abdul Madjid.

Ayahandapun ingat, bahwa diantara yang turut menyimak tausyiah Abuya pada saat itu adalah salah seorang cucu Maulanasyekh yang duduknya tidak terlalu jauh dengan Abuya. Maka ayahanda membawanya ke samping Abuya seraya memperkenalkannya, “Abuya, anak ini adalah salah satu cucu dari Maulanasyekh, namanya Muhammad Zainul Majdi.” Abuya saat itu tersenyum simpul seraya mendoakan kebaikan untuknya. Usia sang cucu waktu itu 14 tahun, masih duduk di bangku Madrasah Muallimin Pancor. Sang cucu pernah menjadi Gubernur NTB 2 periode dan saat ini menjadi Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIAA Cabang Indonesia.

Abuya sendiri adalah Alumni Al Azhar Mesir. Menginjak usia yang ke-25, Sayyid Muhammad Alawi berhasil menyabet gelar Doktor dalam Fakultas Ushuluddin studi hadis dengan penghargaan tertinggi dari Universitas tertua di dunia tersebut. Beliau dianugerahi gelar Profesor oleh Al Azhar pada tahun 2000. Gelar Profesor kesekian dari beberapa universitas Islam terkemuka.

Bisa jadi berkat doa tersebut menjadi spirit Muhammad Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang terinspirasi melanjutkan pendidikannya ke Universitas yang sama selepas di Muallimin Pancor. Di mana jenjang S1 hingga S3 diselesaikan di Kairo di fakultas yang sama namun pada qism (jurusan) berbeda yaitu Tafsir Al Quran. Putra Abuya Sayyid Muhammad, yaitu Sayyid Ahmad pun merupakan seorang Azhari. Beliau adalah Doktor bidang Dakwah pada tahun 2018 dengan disertasi setebal 9 jilid setelah diringkas yang awalnya 20 jilid.

Persamaan ketiganya yaitu Abuya Sayyid Muhammad, Sayyid Ahmad, dan TGB. M. Zainul Majdi memperoleh predikat Maktabah Syaraf Ula atau Summa Cum Laud dari para Masyayikh di Al Azhar dengan jurusan yang berbeda.

Abuya Sayyid Muhammad terkenal dengan sifat sakho’nya (dermawan). Beliau kerap memberi hadiah berupa uang atau kitab karya beliau kepada tamu atau murid-muridnya.

Pada kesempatan kunjungan waktu itu, padahal kedudukan beliau sebagai tamu, beliau memberikan bantuan Rp. 5 juta kepada Maulanasyaikh untuk kepentingan perjuangan NW.

Lantaran gembiranya Maulanasyaikh menerima sumbangan (hadiah), beliau memperlihatkan hadiah itu kepada murid-murid dan keluarganya, “No gitak, mauk aku hadiah lekan anak gurungku”.

Menjelang kembali, Abuya diajak keliling ke rumah-rumah beliau, baik yang di Bermi maupun di Toko Kita. Abuya diajak juga ziarah ke Masjid Pancor. Setelah itu Abuya menjanjikan sumbangan untuk masjid, dan nantinya benar-benar dipenuhinya. Pada kesempatan dimana ayahanda mengantar Abuya kembali ke Surabaya, uang sumbangan itu dititip melalui ayahanda. Uang itu ayahanda serahkan kepada Maulanasyaikh langsung.

Pada kesempatan itu Maulanasyekh berujar, “Kalau sumbangan ini dititip melalui orang lain, uang ini bisa jadi berkurang.” Langsung di hari itu juga Maulanasyekh memanggil pengurus masjid untuk menerima sumbangan Abuya. Bagian dari amal Jariyah Abuya hingga kini masih tegak berdiri kokoh dalam wujud Masjid Jami’ At Taqwa Pancor Lombok Timur.

Abuya juga menitipkan kepada ayahanda 40 kitab lebih karangan beliau sebagai “hadiah tanda cinta” untuk Maulanasyekh. Masing-masing judul sejumlah 5 eksemplar. Penulis pribadi pernah melihat beberapa eksemplar sisa kitab tersebut di Gedeng Ummuna Hajjah Siti Raehanun.

“Kunjungan Abuya pada tahun itu merupakan kunjungan pertama dan terakhir. Beliau tidak sempat lagi mengunjungi pulau Lombok.
Semoga ke depan, ada keturunan atau kerabat dari Abuya yang melanjutkan jalinan silaturrahim itu ke pulau Lombok kembali,” demikian harapan ayahanda dan kita semua.

Bapak Maulanasyekh sendiri menuturkan bahwa dirinya adalah murid Sayyid Alawi, walid dari Abuya. Sayyid Alawi selalu meminta doa kepada hadirin di majelis untuk anak-anaknya. Sehingga dengan izin Allah banyak dari dzurriyatnya menjadi ulama dan da’i sebagai pelanjut perjuangan.

Demikian pula dengan Bapak Maulanasyekh, tradisi itu ditirunya. Beliau kerap kali dalam beberapa kesempatan memintakan doa untuk kedua puterinya (Ummi Rauhun-Ummi Raihanun) dan keturunannya. Persis seperti gurunya, Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al Hasani. Sikap yang sama harus dicontohi oleh para pemburu berkah doa para ulama agar memohon doa kebaikan bagi setiap anggota keluarga kita tanpa terkecuali.

Hubungan antara kedua ulama besar ini terus terjalin harmonis. Sering kali Maulanasyekh menitipkan salam dan buah tangan sebagai hadiah untuk Abuya, seperti sarung, surban, dan pakaian. Dan begitu pula sebaliknya, Abuya memberi kitab karya beliau. Setiap kali ada peziarah atau murid asal Lombok yang mengunjungi kediaman Abuya, beliau selalu bertanya, “Apakah anda kenal sahabatku, Syaikh Zainuddin?” Demikian penuturan TGH. M. Shobri Azhari, Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya yang pernah menimba ilmu di Madrasah As-Shaulatiyah Makkah, madrasah tempat Abuya pernah belajar pula.

Di Indonesia para Alumni Abuya Sayyid Muhammad terhimpun dalam Organisasi Haiah As-Shofwah Al-Malikiah yang dipimpin oleh KH. Ihya Ulumuddin Malang. Adapun Niqobah (cabang) Lombok dipimpin oleh Raden Tuan Guru Bajang, KH Lalu Gede M. Zainuddin Atsani, yang juga Ketum PBNW. Perhimpunan ini setiap tahun mengadakan reuni akbar (multaqo) di lokasi pesantren yang disepakati.

Hubungan kedua ulama ini terus berlanjut hingga akhirnya Maulanasyaikh wafat tahun 1997. Adapun Abuya wafat pada 15 Ramadhan tahun 2004. Semoga kita semua dikumpulkan kelak di surga-Nya Allah bersama Nabi Muhammad SAW dan mereka semua. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami