NASEHAT PUASA HARI KE 12 PUASA MENDISIPLINKAN SIFAT JUJUR

Oleh : Abu Akrom

Seluruh ibadah dalam Islam muaranya adalah melahirkan sifat disiplin dalam diri. Disiplin diri itu artinya taat dan patuh melaksanakan segala aturan yang telah ditetapkan demi mencapai maslahat bagi kehidupan. Konteksnya dengan ajaran pokok agama Islam baik yang ada dalam rukun Islam atau rukun iman, bahwa semua itu mendidik umatnya untuk disiplin. Syahadat disiplin aqidah, shalat disiplin waktu, puasa disiplin jujur, zakat disiplin mengeluarkan harta, dan haji disiplin persatuan. Demikian juga rukun iman itu mengantarkan umat untuk disiplin memegang teguh keyakinan kepada 6 rukun yang telah ditetapkan.

Pada nasehat puasa kali ini pembahasannya berfokus pada ibadah puasa untuk mendisiplinkan sifat jujur dalam diri kita. Berbicara soal sifat jujur ini ternyata bukanlah hal yang mudah, perlu dilatih, dibina dan digembleng secara khusus dan dilakukan secara terus menerus. Salah satu upaya untuk membentuk sifat jujur ini adalah melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dalam berpuasa kita mesti jujur pada diri kita dan kepada siapapun bahwa selama satu bulan penuh dari terbit fajar (subuh) sampai terbenamnya matahari (magrib) benar-benar kita bisa menahan rasa haus dan lapar walaupun banyak peluang untuk makan dan minum. Secara logika mestinya sifat jujur ini dapat terbentuk dan mewarnai dalam kehidupan, karena kita sudah mendisiplinkan diri melatihnya selama satu bulan penuh.

Untuk mengukur bahwa kita telah berhasil mendisiplinkan sifat jujur ini, akan terlihat dengan nyata setelah bulan Ramadhan nanti. Kalau ternyata sifat jujur ini menjadi watak kepribadian kita dalam segala sikap dan perbuatan, berarti training disiplin sifat jujur melalui ibadah puasa selama sebulan itu berhasil dan sukses. Tetapi manakala kita tidak jujur dan suka berbohong, berarti puasa yang kita lakukan itu gagal total tanpa makna sedikitpun. Maka mari kita berusaha dengan puasa yang kita lakukan tahun ini benar-benar dapat membentuk sifat jujur pada diri kita. Betapa pentingnya yang namanya sifat jujur ini, karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan menyebabkan kita masuk ke dalam surga. Sebaliknya berbohong dan berdusta itu akan mengantarkan kita kepada keburukan dan menyebabkan kita masuk ke dalam neraka, na’udzubillah. Demikian Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”

Bekasi, 12 Ramadhan 1442 H/24 April 2021 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami