NWDI Notes (08) NWDI, BUAH KESABARAN DAN KEIKHLASAN

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa*

Alhamdulillah, MUSDA NWDI KE-I Kabupaten Lombok Utara hari ini, Kamis 21 April 2021 M./10 Ramadan 1442 H. secara resmi dibuka oleh ayahanda TGH. Mahalliy Fikri selaku Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) NTB.

MUSDA kali ini dihadiri banyak tokoh-tokoh NWDI, antara lain TGH. Yusuf Makmun (Ketua Umum Dewan Mustasyar), Prof. Dr. Djamaluddin, Dr. Abdul Fattah dan banyak lagi lainnya.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Alkamal Lombok Barat ini, dalam sambutannya mengajak jamaah NWDI untuk betul-betul bersyukur kepada Allah swt. atas telah diselenggarakannya “Kesepakatan Bersama” antara syekhona TGB dan syaikhuna RTGB (23 Maret 2021 M).

Sejak penandatangan “Kesepakatan Bersama” itu, maka secara resmi kita telah memiliki satu organisasi sosial resmi, legal dan diakui negara, yang tak seorang pun bisa mengganggu gugat.

Perahu perjuangan kita adalah sebuah “Organisasi yang juga sesungguhnya merupakan hasil karya al-Magfurulah Maulana Syekh (bernama) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).” Kata Tuan Guru yang masih menjabat PW Demokrat NTB itu.

Secara pribadi, Tuan Guru sangat bersyukur bisa mengikuti syekhona TGB al-Azhari dari jarak dekat dalam mengurus dinamika perkembangan organisasi selama ini.

“(TGB Dr. KH. Muhmmad Zainul Majdi itu) Meski beliau masih muda, tetapi kesabarannya sangat teruji dan keikhlasannya sangat luar bisa.” Demikian pengakuan dan persaksian Tuan Guru.

“Pujian” dan persaksian itu adalah buah kesimpulan dari sebuah cerita –dulu– saat syekhona TGB masih menjabat Gubernur NTB. Ketika itu, sempat ada acara di lapangan umum Mataram yang –ternyata‐- oratornya sepanjang pidato hanya menjelek-jelekkan cucu Maulana Syekh ini.

Setelah rekaman pidato orang itu diputar di depan syekhona TGB yang disimak dan didengarnya dengan seksama. Ternyata, setelah selesai, beliau tak mengucap kata dan meluapkan emosi, melainkan mendoakannya dengan doa yang baik buat orang itu.

“Padahal Bapak TGB dituduhnya sebagai penista agama.” Ceritanya.

Demikianlah syekhona bersikap dan memberi contoh yang baik. Dan kita mengetahui, puluhan tahun (selama dualisme NW), beliau mengajak kita selalu berdoa, bersikap, beramal, dan tetap menabur benih-benih kebaikan untuk ormas, negara dan agama.

Maka –alhamdulillah– tepat 10 Sya’ban 1442 H./23 Maret 2021 M., NWDI yang dibuat Maulana Syaikh resmi sebagai perahu perjuangan kita untuk memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita besar al-Magfurulah.

Ayahanda TGH. Mahalliy akhirnya bisa menyimpulkan, bahwa orang (seperti syekhona TGB) yang berkeinginan terus-menerus akan kebaikan, dengan cara-cara yang baik, pasti diberikan jalan dan pilihan yang terbaik menurut Allah swt.

NWDI adalah buah keikhlasan, kesabaran, kesucian hati, dan ketulusan ikhtiar, serta tawakkal syekhona Tuan Guru Bajang KH. Muhammad Zainul Majdi al-Hâfidz yang mengalir dari karomah niniknya Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid al-Pansyauri.

Betapa tidak. –cerita TGH. Mahalliy Fikri– bahwa sampai pada malam kesepekatan itu, masih belum ada pilihan nama yang pasti sebagai nama organisasi kita. Yang muncul dalam radar usulan baru sekedar nama semisal “NW Hamzanwadi”, “NW Pancor” dan lainnya. Tak satu pun yang menyebut –pilihan– nama NWDI.

Namun, “Pada malam ‘Kesepakatan Bersama’ itu, Bapak Tuan Guru Bajang memperoleh hidayah dari Allah swt., dan besok paginya kita diberitahu oleh beliau, bahwa nama ormas itu adalah NWDI.” Demikian tutur Bapak Tuan Guru alumnus Shaulatiyyah itu.

Tuan Guru yang diberitahu demikian, sangat bersyukur kepada Allah swt. dan sempat membuat dirinya termenung, sembari terbersit di hatinya, _”Alhamdulillah, kalau orang memang berkemauan baik, suci niatnya, dan baik perbuatannya, maka pasti diberikan yang terbaik.”_

Rupanya, bagi Tuan Guru Mahalliy “Kesepakatan Bersama” itu bukan kesepakatan biasa, melainkan sebuah skenario Allah yang terbaik buat kita.

Pasalnya, setelah membaca kitab ماذا في شعبان karya Sayyid Muhammad bin Alawi di situ beliau menemukan bahwa تحويل القبلة (Perpindahan arah kiblat) umat Islam dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Masjidil Haram Makkah al-Musyarrafah terjadi pada bulan yang sama, Sya’ban.

“Ada gerangan apa, dan rahasia apa?” Tanyanya membatin.

Haqiqah, –memang– seperti yang tertera pada surah al-Baqarah bahwa diceritakan bertahun-tahun Nabi Muhammad saw. berdoa dan menggantungkan harapan kepada Allah supaya diizinkan kembali menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim as. itu, akhirnya terkabul juga.

Demikian pula, dalam konteks perjalanan panjang kita berorganisasi.

Setelah sekian lama (seperlima abad) kita mencari dan berdoa memohon jalan terbaik yang hendak ditempuh, maka tepat bulan Sya’ban tahun ini telah ketemu. Dan kita optimis dengan NWDI ini, semua akan menghadap arah yang sama, kepada Pancor Lambang Kesempurnaan.

“Itulah yang patut kita syukuri. (Dinamika organisasi) padanya ada rahasia Allah dan pendidikan dari-Nya.” Kata Tuan Guru alumnus Ma’had Pancor ini.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 21 April 2021 M.

 

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami