NASEHAT PUASA HARI KE 8 MENDIDIK HAWA NAFSU DENGAN BERPUASA

Oleh : Abu Akrom

Allah SWT menciptakan manusia lengkap dengan dua perangkat yang ada padanya, yaitu perangkat jasmani dan perangkat rohani. Perangkat jasmani adalah perangkat lahiriyah yang ada pada organ tubuh manusia, sedangkan perangkat rohani adalah perangkat batiniyah yang bersifat non materi seperti akal, hati, jiwa, ruh dan hawa nafsu. Semua perangkat ini hendaknya dipergunakan sesuai dengan fungsinya agar tercapai segala keinginan, harapan dan cita-cita.

Diantara perangkat yang paling banyak mendominasi adalah hawa nafsu. Bila dilihat dari segi makna secara harfiyah, hawa artinya keinginan dan nafsu artinya diri. Jadi hawa nafsu adalah segala bentuk keinginan diri manusia untuk melakukan segala sesuatu demi tercapai apa yang diinginkan dengan melibatkan semua perangkat yang dimilikinya. Berdasarkan pengertian ini terlihat sekali bahwa hawa nafsu itu terkait erat dengan segala bentuk keinginan manusia untuk melakukan segala sesuatu. Namun dalam praktiknya kecendrungan hawa nafsu itu mengarah kepada hal yang negatif. Ini semua terjadi karena manusia didominasi oleh dua sifat yang sangat berbahaya yaitu rakus dan serakah yang selalu ada dari waktu ke waktu.

Allah SWT dengan sifat Rahman dan Rahimnya tidak menghendaki manusia ini binasa dengan segala bentuk kerakusan dan keserakahannya. Maka diturunkanlah salah satu syari’at yang sangat agung berupa puasa yang diwajibkan tidak hanya kepada umat Nabi Muhammad SAW, juga kepada umat Nabi sebelumnya. Puasa ini berfungsi sangat efektif untuk mendidik hawa nafsu agar mau tunduk, taat dan patuh melaksanakan syari’at agama.

Coba kita lihat ajaran puasa itu, segala bentuk keinginan hawa nafsu benar-benar dibatasi dan tidak boleh dilakukan. Dalam berpuasa kita tidak boleh makan, minum dan melakukan hubungan seksual. Tidak hanya itu hendaknya kita menjaga ucapan, pendengaran dan penglihatan dari segala yang buruk. Semua ini kita lakukan agar hawa nafsu ini dapat dikendalikan secara benar, sehingga tercapailah tujuan puasa yaitu untuk mencapai derajat taqwa. Ketika seseorang mendapatkan derajat taqwa, maka selamatlah manusia dari kejahatan hawa nafsu yang selama ini banyak menjerumuskannya.

Siapapun manusia yang berjuang menahan hawa nafsu dan mengendalikannya untuk taat dan patuh melaksanakan syari’at agama diantaranya dengan melaksanakan puasa secara tulus sepanjang hidupnya, maka Allah SWT dalam Al Quran surat An Nazi’at ayat 40-41akan menjanjikan surga sebagai tempat terindah di akhirat nanti.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (An Nazi’at 79:40-41)

Dengan memahami ayat ini, maka jelaslah bahwa hawa nafsu itu tidak boleh diperturutkan secara bebas tanpa ada aturan yang mengikatnya. Apabila kita takut kepada kebesaran Allah dan berusaha mengendalikan hawa nafsu dengan ibadah puasa, maka kita akan selamat dan kelak di akhirat kita dimasukkan kedalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Jakarta, 8 Ramadhan 1442 H/20 April 2021 M

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami