Dakwah TGB (63) “ISLAM YES, KAFIR NO”, BAHAYA?

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa*

Bagaimana menanamkan moderasi tanpa dengan mudah menggampangkan, sehingga yang semula tidak dibolehkan menjadi dibelok-belokkan agar dibolehkan?

Atau, bagaimana cara wasathiyah atau moderasi tanpa meninggalkan tradisi-tradisi atau garis-garis batasan?, silakan Tuan Guru!

Demikian pertanyaan yang dilontarkan Najwa Syihab yang sering dipanggil Mbak Nana, salah satu putri cerdas dari Abi Quraish Shihab, sang mufassir ternama Indonesia kepada syekhona TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi al-Hâfidz.

Menariknya, sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan Mbak Nana itu, TGB mengawalinya dengan memberi keteladanan kepada kami para muridnya, berupa sikap tawadduk menghormati para pembicara senior sebelumnya seperti; Prof. Dr. Quraish Shihab, KH. Mustafa Bisri alias Gus Mus dan Gus Baha.

“Sebenarnya yang lebih pas menjawab ini adalah Abi Quraish”. Kata syekhona Tuan Guru Bajang penuh tawadduk.

Namun, meski demikian, jawaban dari ulama muda alumnus al-Azhar Cairo Mesir ini sangat berbobot, dan sangat mudah dipahami atau dimengerti oleh orang awam semisal saya.

Pasalanya, dalam penjelasan kemarin (Sabtu, 10 April 2021) via virtual, syekhona TGB al-Azhari memberikan jawaban berupa ilustrasi terkait moderasi itu. Berikut cerita beliau;

Bahwa dulu saat saya menimba ilmu di Al-Azhar, ketika mengaji kepada syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Mustafa (alm) salah seorang pengajar di qismuttafsir.

Pada saat kami sampai pada bahasan وما أرسلناك إلا كآفة للناس (dan tidaklah kami mengutusmu melainkan menyeluruh untuk semua manusia). Kata guru saya itu menjelaskan, “Bahwa setelah beliau diutus sebagai nabi, maka seluruh manusia adalah umat Nabi Muhammad saw.”

Cuman kata syaikh, umat itu ada dua macam yakni ada أمة الإجابة dan أمة الدعوة . Umat kategori pertama yaitu umat yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat alias muslim. Sedang, umat kategori kedua adalah umat yang belum bersyahadat.

Karena itu, syaikh Abdul Ghafur Mustafa mengatakan kepada saya, “Makanya Muhammad (panggilan untuk TGB), kalau kamu keluar dari ruangan ini, lalu melihat koptik, maka dia juga umat Nabi Muhammad. Cuman, dia masih أمة الدعوة, belum menjadi أمة الإجابة. Oleh karena itu, pandanglah dia dengan نظر الرحمة, bahwa dia bagian dari umat Nabi Muhammad saw.”

Demikian ilustrasi menarik yang diceritakan syekhona yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua periode (2008-2018) tersebut. Ilustrasi yang menurut beliau merupakan satu ungkapan yang mencerminkan bagaimana kepeduliaan Al-Azhar mengajarkan atau menanamkan wasathiyah kepada para santrinya.

Bahkan selain itu, ada pula salah satu guru di Al-Azhar –cerita syekhona TGB– yang beliau lupa namanya, pernah mengungkapkan satu pandangan sederhana, sebagai bagian dari langkah awal menangkal terorisme yakni, “Agamamu adalah siapa gurumu”.

Jadi, menurut syekhona TGB, kalau kita berbicara wasathiyah atau moderasi, maka arah Universitas Al-Azhar sebagai sebuah lembaga atau institusi pendidikan sudah sangat terbukti dan teruji menangkal terorisme. Ini sebuah bukti, bahwa peran pendidikan itu luar biasa menyemai moderasi.

“Siapa saja yang muncul di ruang publik, lalu mengkafirkan, mefasikkan dan membidaahkan, maka dia adalah produk dari pendidikan tertentu.” Tegas ulama tafsir asal NTB tersebut.

Selain itu, ada pula ilustrasi berbeda yang disampaikan oleh cucu Pahlawan Nasional asal NTB tersebut. Beliau bercerita akan pengalaman dirinya saat menjabat sebagai Gubernur NTB. Cerita syekhona;

Saat diberi amanah memimpin NTB dulu, ada tetangga kami (non muslim) yang kebetulan berdekatan rumahnya dengan satu lembaga pendidikan tingkat anak-anak (Raudatul Athfal).

Ternyata, di RA ini banyak slogan yang diajarkan atau ditanamkan di sana. Salah satu bunyi slogan itu adalah “Islam Yes. Kafir No”.

Kemudian, tetangga kami itu bertanya kepada saya, “Tuan Guru, apakah memang begitu tuntunan yang diajarkan dalam Islam?

Saya pun, mencari tau dan menelusuri kebenarannya. Nah, ketika saya cek rumah tetangga itu ternyata berdekatan dengan sekolah Islam tersebut. Lalu, ketika anak-anak itu pulang sekolah, slogan itu diteriak-teriakkan di jalan yang mereka lalui.

Maka, –kata syekhona TGB– fenomena ini juga menjadi PR kita bersama. Bahwa ketika kita bicara wasatiyah atau moderasi untuk menangkal terorisme, maka kita harus sungguh-sungguh berbicara tentang; apa yang kita ajarkan kepada anak-anak didik, mulai dari tingkat paling rendah?.

Penanaman nilai Islam seperti apa sih yang kita ajarkan kepada anak-anak didik kita?.

“Mohon maaf –kata syekhona TGB–, tidak mengherankan, kalau slogan seperti itu yang diajarkan sejak dini, lalu di kemudian hari terjadi friksi (perpecahan) di tengah hubungan sosial”. Tegas syekhona TGB.

Beliau menegaskan demikian, sebab anak-anak yang disuntikkan slogan demikian, pada saatnya nanti mereka akan beranjak besar dan dewasa. Sekian puluh tahun ke depan, mereka akan membawa slogan tersebut sebagai pendidikan yang diyakini dan diperjuangkannya sebagai satu-satunya jalan cara ber-Islam. Bahaya!

Maka simpulannya, penangkal pertama terorisme adalah dengan cara memperbaiki kiblat institusi pendidikan dan nilai-nilai yang di ajarkan di sana.

“Maka saya bersyukur bisa berguru kepada Abi Quraish, syekh Gus Baha dan Gus Mus.” Tutup TGB dengan penuh adab dan kesopanan yang mencerminkan ketawadduannya.

Wa Allah A’lam!

Paok Lombok, 11 April 2021 M.

 

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami