CERPEN (12) PANTUN DI TENGAH MALAM OLEH : ABDUL QUDDUS AL MAJIDI (SISWA KELAS 9 SMP NW JAKARTA)

Sekarang jam 9 malam, aku baru selesai mengaji di pondokkan ku. Ustadz yang mengajar sudah pulang mendahului kami. Aku, Briant, dan Rido tidak pulang ke asrama dulu. Aku membaca cerita fiksi, Briant sedang menggambar di bukunya, kalau Rido sedang mengkaji kitab yang baru dipelajari. Sampai jam setengah 10, Rido bilang katanya dia ingin pulang duluan. Tersisalah aku dan Briant di sini. Karena capek, kami putuskan pulang dari masjid dan menuju koperasi untuk makan beberapa snack. Kurasakan angin berembus sepoi-sepoi ketika ku berjalan menuju koperasi. Ia pergi jajan lagi ke penjual kaki lima dekat sini.

“Briant, kamu beli apaan itu? ” Tanyaku kepadanya. Mulutnya penuh noda bekas makanan penjual kaki lima tersebut. Tangannya menggenggam plastik berisi makanan, aromanya tercium semerbak makanan bintang lima.
“Oh, ini… Ini pempek Majidi. Majidi mau? ” Briant menawarkan dengan penuh keyakinan.
“Boleh kalo ditawarin mah. ” Kataku penuh harap.
“Beli sendiri… ”
Heh… Kebiasaan. Nawarin tapi gak ngasih.

Batinku kecewa.

“Udah ah, saya mau jajan sendiri. Malezzz sama kau mah Briant. ”

Setelah menunggu beberapa menit, pempek khas Palembang di Jakarta telah jadi dan siap tuk dimakan. Sambil makan pempek dan menikmati alam, aku melanjutkan membaca cerita fiksiku. Hening, tanpa obrolan sedikitpun karena aku dan Briant sibuk melakukan aktivitas masing-masing.
Ia masih makan pempek disampingku.

“Majidi, mau pantun gak?” Katanya memecah keheningan, refleks aku menutup buku ceritaku dan menoleh ke arahnya.
“Pantun apa? Awas aja kalo pantunnya tidak berfaedah! ” Ancamku
“Ehem… ” Ia berdeham sejenak dan melanjutkan.
“Beli baju di tempat eceran;
Belinya itu bareng si ekah;
Aku masih nggak mau pacaran;
Aku maunya langsung nikah…

“Nih satu lagi Majidi

“Pergi sekarang membawa udang;
Pulang nanti membawa palu;
Pergi sekarang membawa uang;
Pulang nanti membawa ilmu.”

” Bagaimana Majidi, pantun saya barusan? ” Tanya Briant sambil menaikturunkan alisnya.
“Yang barusan bagus, yang awalnya gak bagus. Masih kecil juga udah ngomongin nikah. Astaghfirullahalazim… ”
“Lah? Benar saya Majidi. Di pondok ‘kan gak boleh pacaran… ”
“Terserah kamu lah Briant., duluan ah balik ke asrama. Bye Briant… ”
Kataku sambil beranjak pergi meninggalkannya sendiri di koperasi.

“Eh, tungguin saya Majidi! ” Diapun mengejar saya dan lari dengan kencang.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami