Kisah Inspiratif : -14- Hatim Al-Asham 30 Tahun bersama Syaqîq Al-Balkhi

Oleh : Harapandi Dahri

Hâtim Al-Asham (237H/851M), nama lengkapnya ialah Abu Abd Rahman, seorang Zahid dan terkenal dengan kewara’annya. Banyak kitab yang telah dihasilkan dan di dalamnya ungkapan-ungkapan hikmah terurai dengan sangat bijak.
Syaqîq Al-Balkhi ( 194H/810M) nama penuh beliau ialah Syaqîq bin Ibrahim bin ‘Ali Azdi Al-Balkhi, beliau juga sebagai salah seorang tokoh sufi yang sangat terkenal, beliaulah orang pertama yang berbicara tentang ilmu-ilmu ahwâl (situasi dan kondisi hati/batin manusia).

Kedua-dua ahli sufi ini adalah murid dan guru, Hâtim Al-Asham adalah murid yang bersama gurunya Syaqîq Al-Balkhi selama 30 tahun. Pada suatu hari guru Syaqîq Al-Balkhi berkata kepada muridnya Hâtim Al-Asham;” Wahai Hâtim, engkau telah bersama denganku selama 30 tahun, apa yang engkau dapatkan dari kebersamaan tersebut. Mendengar pertanyaan dari gurunya lalu Hâtim Al-Asham berkata “aku telah mendapatkan dengan kebersamaan kita 8 perkara”, lantas Syaqîq Al-Balkhi mengatakan;”ceritakan apa-apa yang delapan perkara yang telah engkau dapatkan itu”. Hâtim Al-Asham berkata;
Pertama; Aku telah banyak melihat dan mengamati perilaku manusia masa kini, aku dapatkan mereka saling mencintai bahkan hingga melampaui cintanya terhadap Sang Pencipta, mereka tidak memahami hakikat apa dan siapa yang mesti dicintai dengan sebenar-benarnya, mereka pun alpa bahwa apa-apa yang mereka cintai akan terhenti saat mereka sudah dipisahkan dengan kematian, antara mereka tidak ada yang siap dikubur ke dalam satukuburan.

Setelah selesai dikuburkan, seluruh keluarga, family dan orang-orang yang dicintainya pergi meninggalkan dia sendiri di dalamkubur.
Suasana inilah yang membuat aku berpikir, bahwa aku perlu teman, sahabat dan keluarga yang selalu siap menjadi temanku di dalamkubur, bahkan sampai aku masuk ke dalam surga Allah, karena itulah aku putuskan untuk mencari dan aku pun mendapatkannya. Perkara yang siap selalu menjadi fartner di alam sana ialah amal saleh, maka aku pun selalu mengerjakan dan pergi, berjalan, duduk, berdiri dan bahkan tidur pun bersamanya agar dapat menjadi teman, penerang dan sahabat berdialog di alamkubur.

Kedua; Aku telah melihat kebanyakan manusia sekarang berlomba-lomba memperturutkan hawa nafsunya, sangat sedikit dari mereka yang mengikuti kata hatinya (bisikan kebenaran), maka aku menghayati firman Allah, surat Al-Nazi’at:40-41.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (النازعات:٤٠-٤١)
Artinya: ” Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”.
Dan aku sangat yakin bahwa Al-Qur’an itu benar, karena itulah aku bersegera menarik diri dari berbagai kesenangan nafsuku, aku bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan menjauhkan sifat-sifat dan tabiat memperturutkan hawa nafsu.

Ketiga; Aku telah melihat banyak manusia menyibukkan dirinya dengan mengumpulkan harta dan kesenangan dunia kemudian mereka pegang dengankuat (tidak mengeluarkan zakat atau pun sedekah), maka aku mencermati ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Nahl:96. ما عندكم ينفد وما عند الله باق apa-apa yang ada di tangan makhluk pasti hancur dan rusak serta apa-apa yang ada dinsisi Allah pastilah kekal dan abadi. Karena itulah aku mencari dunia kemudian aku bagi-bagikan kepada faqir miskin, semoga menjadi simpanan dan amal kebajikan disisi Allah Azza Wajalla.

Keempat; Sesungguhnya aku melihat sebagian manusia merasa bahwa kemuliaan dan kehormatan di mata manusia dengan banyaknya masyarakat yang patuh dan taat padanya seolah-olah dapat menjadikan dia mulia disisi Allah. Sebahagian lagi berpikir bahwa dengan banyaknya harta-benda yang dimilikinya akan dapat menjadikan derajatnya lebih tinggi dari para fakir miskin. Seperti halnya juga sebahagian yang lain berbangga-bangga dengan anak keturunan yang banyak dan sukses, mereka menyangka bahwa dengan banyak anak yang berjaya akan dapat membantunya meraih kasih sayang Allah.
Melihat semua perilaku sebagian manusia, maka aku memilih Al-Taqwa sebagai dasar amalan yang berdasar kepada firman Allah Azza Wa Jalla surat Al-Hujurat:13.إن أكرمكم عند الله أتقاكم sesungghunya orang yang paling mulia disisiku ialah mereka yang paling bertaqwa.

Kelima; Saya telah menyaksikan sebagian manusia saling menghina, saling mencerca dan saling memusuhi bahkan saling membunuh antar satu dan yang lainnya. Hasad dan dengki menjadi kepribadian mereka, maka aku menghayati Ayat Al- Qur’an نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا kami bagi-bagikan kehidupan antara mereka agar merasakan nikmatnya kehidupan duniawi ini. Maka aku memahami bahwa pembagian kehidupan ini datangnya dari Allah Azza Wajalla sejak azali, karena itu tidak ada manfaatnya berlaku hasad dan dengki kepada orang lain, keridhaan terhadap pembagian Allah adalah bukti keimanan.

Keenam; Sesungguhnya aku telah banyak sekali menyaksikan manusia saling bermusuhan dengan berbagai sebab dan beragam tujuan, maka aku mencoba memperhatikan dan menghayati Firman Allahإن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh (jangan jadikan teman)”. Karena itu saya mencoba tidak memandang manusia sebagai lawan dan musuh. Musuh kita yang paling jelas dan ditegaskan Allah dalam Surat Fathir:6 tersebut ialah setan.

Ketujuh; Sesungguhnya saya telah banyak melihat manusia-manusia berjalan dan menyibukkan dirinya dalam menggapai dan mencari kehidupan duniawi baik untuk menghidupi keluarganya maupun untuk menambah kekayaan yang dimilikinya, mereka tidak memperhatikan cara-cara dan jalan mendapatkan keinginannya, syubhat bahkan haram tetap dijalankannya, dengan menghinakan dirinya di depan manusia lain, maka aku coba merenungkan makna Firman Allah وما من دابة في الأرض إلا عل الله رزقها “Tiadalah satu makhluk yang melata di bumi meliankan Allah yang menjamin rezekinya”. (Qs. Huud:6)
Dengan itu aku mengetahui bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah, karena itulah aku menyibukkan diri untuk beribadah hanya kepada Allah, aku pun memisahkan dan mengasingkan diri untuk tunduk dan patuh pada selain Nya.

Kedelapan; Sesungguhnya aku telah menyaksikan banyak manusia bersandar dan menggantungkan hidupnya kepada makhluk, sebagian mereka menggantungkan dirinya pada dinar juga dirham, sebagian lain kepada harta-benda dan juga kekuasaan, juga sebagian yang lain kepada produk dan kejayaan dan sebagian lainnya mereka sangat terikat dengan manusia lain seperti dirinya, maka aku mencoba merenungkan Ayat Al-Qur’an Surat Al-Thalaq/65:03
ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيئ قدرا
“Dan sesiapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah itu baginya karena sesungguhnya hanya Allah yang dapat memberikan segala urusannya. Sesungguhnya Allah memberikan (jalan keluar) dalam segala urusan, Allah telah menetapkan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu ”.

Maka aku pun mencermati serta mengamalkan isi ayat tersebut, aku mencoba mengamalkannya dengan sepenuh hati, karena Allah telah menjamin segala apa-apa yang diperlukan manusia, maka tidak ada lagi keperluan dan hajat kita kepada selain diriNya.
Setelah mendengar apa-apa yang dijelaskan oleh Hâtim Al-Asham, kemudian Al-Syaikh Syaqîq Al-Balkhî mengatakan: ”Semoga Allah memberikan petunjuk dan bimbingan Nya kepadamu wahai Hâtim, sesungguhnya aku pun telah melihat pada empat-empat kitab (Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an), maka aku dapatkan keempat-empat kitab tersebut berbicara seputar delapan perkara yang telah engkau uraikan, dan siapa yang beramal dengan kesemua yang telah engka katakan tersebut, ia akan selamat dan telah menjalankan inti ajaran dari keempat kitab tersebut”.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami