Pemimpin Cermin Rakyat

Rakyat itu bergantung pada kebiasaan pemimpinnya, bahkan mengikuti agamanya. Bagaimana tabiat pemimpinnya maka masyarakat akan cenderung mengikutinya. Pemimpin adalah cermin bagi rakyatnya. Seperti kalimat bijak bangsa Arab,

الناس على دين ملوكهم, الناس اتباع من غلب. اذا تغير السلطان تغير الازمان

“Manusia bergantung ada agama/adat kebiasaan para pemimpinnya. Manusia adalah pengikut bagi yang menang. Jika pemimpin berubah, zaman pun ikut berubah”.

Sejarah merekam pada masa Yunani kuno, para pemegang kuasa menganut paganisme berupa kepercayaan pada dewa-dewa. Patung-patung replika dari dewa mereka pahat dan kuil-kuil pemujaan mereka dirikan. Rakyatpun melakukan hal serupa. Demikian pula kekaisaran Romawi kuno dimana pemimpin dan rakyatnya menganut keyakinan paganisme. Saat raja-raja Romawi beralih menjadi penganut Kristen, rakyatnya pun ikut serta memeluk Kristen.

Para penguasa Persia yang beragama Majusi diikuti oleh rakyatnya di seluruh wilayah kekuasaan mereka. Tatkala umat Islam melakukan futuhat, satu demi satu wilayah kekuasaan Romawi dan Persia ditaklukkan, alhasil penduduk di wilayah-wilayah itu berbondong-bondong masuk Islam.

Para ahli sejarah mencatat pula dalam kitab-kitab mereka pada saat Hajjaj bin Yusuf menjadi Gubernur di beberapa wilayah, para warganya pada masa itu saling bertanya satu sama lain di pagi hari siapa yang ditangkap dan siapa pula yang terbunuh semalam. Siapa yang dicambuk atau siapa yang disalib semalam.

Saat Walid bin Hisyam menjadi khalifah yang notabene ahli tata kota, masyarakatnya bertanya apa lagi yang akan dibangun khalifah Walid. Lampu-lampu indah apa yang dibeli dan gedung-gedung apalagi yang ia akan berdiri. Pohon-pohon apa lagi yang akan ditanam.

Pada masa kekhilafahan Sulaiman bin Abdul Malik, masyarkat mengenalnya doyan berpesta pora dan doyan menikah. Masyarakat saling bertanya, kapan lagi khalifah akan menikah, kapan lagi akan diadakan pesta besar-besaran. Kapan lagi mereka diundang menyantap hidangan lezat. Masyarakat pun mengikuti tabiat pemimpinnya.

Berbeda saat ummat Islam dipimpin Khalifah agung, Umar bin Abdul Aziz. Ia terkenal sebagai seorang yang alim dan shaleh. Setiap perjumpaan warganya mereka saling bertanya persoalan spiritual. Obrolan mereka seputar berapa juz yang sudah mereka hafal. Berapa lama zikir malam mereka. Bagaimana puasa sunnah mereka, dan apakah masjid mereka terisi penuh dengan jamaah.

Pemimpin memiliki otoritas dan kekuatan sistem di tangannya. Dengan itu bisa menjadi tongkat kuasa untuk menertibkan bahkan mendidik warga masyaraktnya. Jika baik, maka rakyatnya pun ikut baik. Jika buruk, rakyat pun demikian.

Ketika Firaun memimpin rakyat dengan tangan besi dan menetapkan dirinya sebagai Tuhan, rakyatnya pun ikut tersesat. “Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. (QS. Thaha: 79). Rakyat lemah yang tidak memiliki kuasa dan akses luas untuk mencari kebenaran sehingga ikut terjeremus dalam kesesatan, di hari kiamat nanti mereka berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab: 67)

Itulah mengapa Islam memandang kekuasaan dan kepemimpinan itu sangat urgen. Kepemimpinan ideal menurut al-Ghazālī adalah kepemimpinan yang bertopang intelektualitas, agama, dan akhlak, mampu memengaruhi lingkungan yang dipimpin, serta mampu mengobati kehancuran dan kerusakan dalam diri bangsa atau organisasi, serta membawa masyarakat yang adil dan makmur dengan menjunjung tinggi keilmuan, juga moral yang bersendikan agama.

Jika kekuasaan diperoleh dengan cara suap dan jual beli suara, maka rakyat yang dipimpin akan melakukan hal serupa untuk meraih sesuatu dalam berbagai hal. Apalagi pada era pemilihan langsung oleh rakyat seperti hari ini. Pemuja jabatan akan melakukan apa saja untuk merebut simpati mereka, termasuk membeli suara atau memanipulasi hasil suara sekalipun.

Jika pemegang kuasa adalah orang yang bodoh dan tidak cakap, maka tentu orang-orang yang berkepentingan di sekitarnya akan memanfaatkan keadaan dengan meraup keuntungan pribadi (membodoh-bodohinya).

Jika yang didaulat sebagai pemimpin orang yang tidak bijak, otomatis keputusan yang dilahirkan tidak bijak. Sehingga berimbas kepada rakyat secara langsung.

Jika pemimpin suka curhat dan baper maka rakyat pasti bingung akan curhat kepada siapa dan akan ikut baper juga. Jika pemimpin suka memprovokasi maka pengikutpun akan ikut juga. Jika pemimpin suka berkata kasar, marah-marah, dan tidak simpatik, pengikut akan menjadikannya sebagai teladan

Menjadi pemimpin berarti menjadi wakil Tuhan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah rakyat. Pemimpin dengan kuasanya bisa memperbaiki dan merubah manusia lebih banyak dibandingkan ribuan retorika ulama di mimbar. Bahkan dengan kekuasaan, ajaran kitab suci lebih efektif dan lebih cepat diterapkan hanya dengan selembar kertas bertandatangan. Dengan satu sabda dan titah pemimpin maka ribuan bahkan jutaan fakir miskin dan anak yatim bisa makan dan terbantukan.
Utsman Radhiallahu ‘Anhu juga berkata:

إنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya, Allah akan benar-benar menghilangkan kemungkaran melalui tangan penguasa, yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran”.

Kita berdoa agar para pemimpin yang menguasai kaum Muslimin diberi taufiq dan hidayah oleh Allah Taala.

Oleh : Habib Ziadi Thohir, Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Praya.
Ketua Sinar 5 Care dan Masyarakat Cinta Masjid Lombok Tengah

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami