Syaikh Muhammad Ali as-Sobuni : Ulama Tafsir Asal Suriah

Kabar wafatnya Syekh ali Assobuni menyebar pada hari Jumat tanggal 19 Maret 2021 kemarin. Muhammad Wail al-Hanbali, ulama asal Damaskus, menulis kabar tersebut melalui akun Twitternya

“Telah wafat beberapa menit lalu, di Kota Yalova, dekat Istanbul, pada Jumat dhuha, 6 Sya’ban 1442 H, bertepatan 19 Maret 2021 M, al-Allamah al-Mufassir al-Mu’ammar al-Syeikh Muhammad Ali bin Jamil Al-Shabuni al-Halabi,” tulisnya.

Syekh Ali wafat dalam usia 91 tahun. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ali bin Jamil Ash-Shabuni. ia lahir di kota Aleppo, Suriah, pada tahun 1930 M. Namun beberapa sumber menyebutkan Ash-Shabuni dilahirkan tahun 1928.

Syekh Ali Ash-Shabuni dibesarkan di tengah-tengah keluarga terpelajar. Ayahnya, Syekh Jamil merupakan salah satu ulama senior di Aleppo. Beberapa sumber menyatakan bahwa ayahnya adalah orang pertama yang membimbingnya baik di pendidikan dasar dan formal, terutama mengenai bahasa Arab, ilmu waris dan ilmu agama.

Ali Ash-Shabuni sejak kanak-kanak sudah
memperlihatkan bakat dan kecerdasan dalam menyerap berbagai illmu agama, hal ini terbukti dengan berhasilnya ia menghafal seluruh juz dalam Al-Quran di usia yang masih sangat belia.

Sembari menimba ilmu kepada sang Ayah, Ash-Shabuni juga pernah berguru kepada
sejumlah ulama terkemuka di Aleppo. Mereka diantaranya yang pernah menjadi guru Ash-Shabuni adalah Syekh Muhammad Najib Sirajuddin, Sykeh Ahmad Al-Shama, Shekh Muhamad Sa’id Al-Idlibi, Syekh Muhammad Raghib Al-Tabbakh, dan Syekh Muhammad Najib Khayatah.

Selain itu, untuk menambah pengetahuannya, ia juga kerap mengikuti kajian-kajian para ulama lainnya yang biasa diselenggarakan di berbagai masjid. Setelah menyelesaikan studinya di bangku sekolah dasar, Ash-Shabuni melanjutkan pendidikan formalnya ke sekolah milik pemerintah, Madrasah Al-Tijariyya.

Di sana ia hanya mengenyam pendidikan selama satu tahun,hal itu dikarenakan ia tidak setuju akan kecenderungan ilmiah sekolah itu dalam mengajarkan perdagangan dengan sistem ribawi yang terjadi di bank. Selanjutnya iameneruskan ke sekolah khusus Syariah, Khasrawiyya yang berada di Aleppo.

Di Khasrawiyya Ash-Shabuni tidak hanya mempelajari bidang ilmu-ilmu keislaman
seperti tafsir, fikih, hadits, dan lain sebagainya, akan tetapi juga mata pelajaran umum. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Khasrawiyya dan lulus pada tahun 1949.

Ash-Shabuni melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo,Mesir, hingga mendapat gelar Lc dari fakultas Syari’ah pada tahun 1952. Tidak berhenti di sini,ia pun melanjutkan ke pasca sarjana danlulus pada tahun 1954 dengan mendapat gelar Megister pada konsentrasi peradilan Syariah (Qudha As- Sar’iyyah). Seluruh studinya di Mesir merupakan beasiswa dari Departemen Wakaf Suriah.

Pasca studi di Mesir, Ash-Shabuni kembali ke kota kelahirannya. Ia mengajar di berbagai sekolah menengah atas (SMA) yang ada di Aleppo. Pekerjaannya sebagai guru SMA ini ia lakoni selama delapan tahun. Dari tahun 1955 hingga tahun 1962.Setelah itu, ia pun mendapatkan tawaran mengajar di dua universitas ternama, yakni di fakultas Syari’ah, Universitas Ummu’l Qura’ dan
Fakultas Ilmu Pendidikan Islam, Universitas King Abdul Aziz. Kedua universitas tersebut terletak di Kota Makkah, di kedua universitas tersebutlah ia menghabiskan waktu, dan aktivitas ini ia geluti
selama 28 tahun.

Saat menjadi dosen di Ummu’l Qura’, Ash-Shabuni pernah menyandang jabatan Ketua Fakultas Syari’ah. Ia pun dipercaya mengetuai Pusat Kajian Akademik dan Pelestarian Warisan Islam (Turats). hingga kini ia tercatat sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Ilmu Pendidikan Islam Universitas King Abdul Aziz.

Selain mengajar di kedua universitas itu, Ash- Shabuni juga memberikan kuliah umum bagi masyarakat di Masjidil Haram. Kuliah umum mengenai tafsir juga ia berikan di salah satu masjid di kota Jeddah. Kegiatan ini berjalan selama delapan tahun. Setiap materi yang ia sampaikan direkamnya dalam kaset. Wal hasil, tidak sedikit dari rekaman tersebut kemudian ditayangkan dalam program khusus di televisi. Di tahun 1998 proses rekaman yang berisi kuliah-kuliah umum Ash-Shabuni berhasil diselesaikan.

Di sela kesibukannya mengajar, Ash-Shabuni pun menyempatkan diri untuk aktif dalam
organisasi Liga Muslim Dunia. Di lembaga ini ia menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai A-Quran dan Sunah. di sini ia aktif beberapa tahun, lalu kemudian ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk menulis dan melakukan penelitian.

Diantara kesibukkannya di Ummul Qura Madinah adalah Ash-Shabuni ditugaskan menjadi editor Turats Islam. Di sana ia sukses men-tahqiq (melakukan pemeriksaan secara seksama dan rinci) salah satu kitab tafsir klasik “Ma’ani’l Qura’an” karya Imam Abu Ja’far An’ Nuhas. Naskah kitab ini hanya ada satu di dunia, di-tahqiq dengan referensi dari berbagai sumber, khususnyatafsir, bahasa, hadits dan lain sebagainya. Penelitian ini membuahkan hasil penerbitan kembali kitab Ma’ani’l Quran setebal 6 jilid.

Selain itu, terdapat pula karyanya yang sempat dibekukan oleh pemerintah Saudi Arabia, yakni kitab Shafwatu’t Tafasir, sampai tahun 1998. Pelarangan tersebut berlaku dengan diterbitkannya surat keputusan Kementerian Haji dan Wakaf yang memerintahkan para pengurus wakaf, masjid dan lain-lain untuk membekukan kitab itu dan tidak memberikannya kepada masyarakat.

Karena kiprahnya di dunia pendidikan Islam, di tahun 2007, panitianpenyelengggara Dubai International Qur’an Award menetapkan Ash-Shabuni sebagai Personaliti of The Muslim World. Pilihan tersebut jatuh padanya setelah beberapa orang kandidat diseleksi oleh Pangeran Muhammad ibn Rashid Al-Maktum, Wakil Kepala Pemerintahan Dubai.

Diantara karya-karya Muhammad Ali Ash-shabuni adalah sebagai berikut:

1.Rawa’I al-Bayan fi Tasair Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an
2. Al-Tibyan fi ‘Ulum Al-Qur’an (Pengantar Studi Al-Qur’an)
3. Shafwah al-Tafasir
4. Mausu’ah Al-Fiqh As-Syar’I al-Muyassar
5. At’ Tafsir Al-Wadhih Al-Muyassar
6. Ijazu’l Bayan fi Suwari’l Quran
7. Mauqifu’s Syari’ah Al-Gharra’ min’ Nikahi’l Mut’ah
8. Aqidah Ahlus’s Sunnah fi Mizani’s Syar’i
9. Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir
10. Mukhtashar Tafsir Thabari
11. Fathu’r Rahman bi Kasyfi ma Yatalabbasu fi’l Qura’an
12. Annubuwah Wal Anbiya’
13. Qabasun min Nur al Qur’an.

Ditulis Oleh Abdul Malik Salim Rahmatullah, Sekretaris Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan Mesir, Mahasiswa Fakultas Syariah da Hukum Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami