Muslihan Habib M.Ag : Pendukung Lahir dan Berkembangnya Nahdlatul Wathan Jakarta

Dalam sejarah lahirnya pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, seringkali disebut oleh pendirinya dengan mengatakan, pesantren ini lahir tanpa direkayasa. Disebut demikian, karena memang dalam pendiriannya tidak pernah ada konsep secara matang, terukur dan terencana yang mengarah pada pendirian sebuah pondok pesantren yang ideal dan mantap.

Oleh sebab itu, kehadiran Nahdlatul Wathan (NW) secara organisatoris dan pesantren Nahdlatul wathan Jakarta sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam di tanah Betawi Jakarta, tepatnya di Kampung Pisangan Rt.01-Rw.03, Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Kota Madya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta, tidak terlepas dari dukungan dan sambutan positif dari berbagai pihak, sehingga pesantren ini dapat eksis dan berkembang di wilayah ini.
Dalam konteks ini, setidaknya ada tiga komponen penting sebagai pendukung kuat pada awal kelahiran Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, yaitu dukungan dan sambutan positif dari guru besar kita Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul madjid, dukungan dan sambutan positif dari masyarakat Jakarta dan Mahasiswa yang berasal dari Lombok.

Dukungan Dari Maulana Syaikh

Suatu hal yang tidak boleh terlupakan dalam mengupas sejarah awal berdirinya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini adalah dukungan kuat yang datang dari Pendiri NWDI, NBDI dan Nahdlatul Wathan (NW), yakni Guru besar kami, al-`Allamah al-`Arifu Billah Maulana Syaikh Tuan Guru kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid al-Masyhur atau yang kerap dipanggil Maulana Syaikh oleh murud dan jama`ah Nahdhiyyin. Keberadaan dan peranan beliau dalam memberikan motivasi, baik secara materi ataupun immateri adalah sangat dirasakan sekali oleh pendiri dan pimpinan pesantren ini, Ust.H.M Suhaidi khususnya dan teman-teman seperjuangan.

Dan disamping itu pula, memang bagi Maulana Syaikh sendiri sepertinya memiliki obsesi atau ambisi yang sangat besar dalam mengembangkan pesantren ini, karena beliau sangat memahami bahwa pesantren ini berada di Ibu Kota negara yang merupakan sentral informasi, sentral ekomomi, sosial dan politik di Indonesia. Dan bagi beliau, mungkin saja sudah membaca dan melihat bagaimana urgensinya Nahdlatul Wathan sebagai organisasi untuk bisa eksis di mata nasional dan internasional pada masa-masa yang akan datang. Sehingga, beliau pun pernah berkata; ”Saya ingin Nahdlatul Wathan Jakarta itu sebagai kiblat Nahdlatul Wathan”.

Maulana Syaikh yang disebut sebagai aulia Allah Subhanahu wa ta`ala dan ulama besar yang selalu konsisten dan memiliki cita-cita serta idealisme yang tinggi dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah Subhaanahu wa ta`ala di muka bumi ini melalui basis organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikannya adalah suatu hal yang mesti selalu dikenang dan dihayati oleh segenap Nahdliyin dan umat Islam umumnya untuk membangun motivasi perjuangan yang terkadang sering luntur di era globalisasi ini. Sebagai suatu gambaran cita-cita dan idealismenya yang tinggi Maulana Syaikh itu adalah potongan kalimat yang telah tertuangkan dalam kitab Hizib Nahdlatul Wathan yang mengatakan ” Wansyur liwa`a nahdlatil wathan fil `lamin” ( Ya Allah, sebarkanlah panji-panji Nahdlatul Wathan itu ke seluruh penjuru dunia).

Selain itu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa untuk pondok pesantren Nahdlatul Wathan ini tidaklah sebuah pesantren yang hanya fokus terhadap aspek pendidikan saja, tapi juga focus dan berperan aktif dalam aspek social dan dakwah Islamiyah. Sehingga, keberadaan dan kehadiran pesantren ini di tengah-tengah masyarakat adalah cukup efektif untuk berperan sebagai perekat hubungan dan pengayom masyarakat, baik pada tingkatan lokal, regional dan bahkan tingkat nasional.

Dukungan Dari Masyarakat Jakarta

Selain dukungan yang kuat dari Maulana Syaikh terhadap lahirnya pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, maka sambutan dan dukungan yang tidak pernah terlupakan juga adalah smabutan dan dukungan penuh yang datang dari berbagai kalangan masyarakat Jakarta. Sehingga, kiprah pesantren ini pun sampai saat ini, ternyata sangat erat dengan semua kalangan masyarakat.
Secara gelobal Jakarta sebagai Ibu Kota negara, tempat lahirnya pesantren Nahdlatul Wathan ini adalah dikenal sebagai daerah yang penduduknya sangat majmuk. Di sebut majmuk, karena masyarakat yang tinggal di wilayah ini di tinjau dari sisi ras, agama dan suku bangsa adalah sangat variatif. Untuk agama dan suku bangsa, boleh dikatakan, secara mayoritas Jakarta adalah daerah tempat berkumpulnya semua agama dan suku bangsa yang ada di Indonesia. Untuk suku bangsa, mereka umumnya berasal dari suku Jawa, Suku Sunda, Suku Minang, suku Batak dan lain-lainnya dan termasuk suku Betawi yang merupakan suku asli yang mendiami wilayah Jakarta ini.

Penerimaan, sambutan dan dukungan positif masyarakat Jakarta terhadap pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, setidaknya dilatarbelakangi oleh empat hal, yaitu; Kesamaan dalam Madzhab, kiprah pesantren, keikhlasan para guru dan Figur pimpinan pesantren yang bersahaja.
Kesamaan madzhab dan kesamaan model keberagamaan atau keIslaman yang dianut oleh masyarakat sekitar dengan Nahdlatul Wathan yang umumnya memiliki kesamaan, maka hal inipun dapat disebut sebagai modal awal para pendiri pesantren ini mendapatkan sambutan dan dukungan yang kompak dari masyarakat Betawi dan masyarakat Jakarta umumnya.
Diantara nama-nama sesepuh masyarakat Betawi dan sesepuh lainnya dari berbagai kalangan yang banyak memberikan dukungan awal dalam sejarah lahir dan berkembangnya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta adalah H. Rahman Agam (alm), H. Taim, H.Sutopo (alm), H.Anwar (alm), H.Heru (alm), H. Samang Gafin (alm), Jamin Sudarmin (alm) dan Ibu Sudarmin, H. Zubaidi (alm), H. Sakim (alm), Ibu Yakut (alm), H. Nayar (alm), H. Jaba (alm) dan lain-lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan secara rinci dan umumnya juga sudah banyak yang telah meninggal dunia. Semoga segala amal ibadahnya diterima oleh Allah subhanahu wa ta`ala. Amin

Masyarakat muslim Indonesia, memang pada umumnya juga mayoritas menganut faham Ahlussunnah Wal Jama`ah. Dalam bidang tauhid merujuk pada Imam Abu Hasan Ali al-`Asya`arid an Imam Abu Mansur al-Maturidi. Sementara dalam bidang Fiqh, merujuk pada salah satu Imam Madzhab yang empat, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi`I dan Imam Hambali. Dan khusus dalam bidang tasawuf, merujuk pada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani atau Imam al-Ghazali.
Dalam konteks ini, Nahdlatul Wathan (NW) secara organisatoris adalah merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan Islam yang memperjuangkan ideologi atau faham Ahlussunnah Wal Jama`ah , yang dalam bidang tauhid merujuk pada Imam Abu Hasan Ali al-Asya`ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Sementara dalam bidang Fiqh, merujuk pada salah satu Imam Madzhab Yang empat juga, yaitu Imam Syafi`i radhiallaahu `anhu. Dan khusus dalam bidang tasawuf, merujuk pada tasawufnya Imam al-Ghazali radhiallaahu `anhu.

Dengan demikian, setiap santri atau siswa-siswi dan jamaahnya yang belajar, menimba ilmu pengetahuan di madrasah-madrasah Nahdlatul Wathan umumnya dan pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta khususnya, maka dengan sendirinya para guru-guru dan kyai yang mengajarkannya, adalah menerapkan model keIslaman yang mengarah pada ideologi atau faham Ahlussunnah Wal Jama`ah, yang dalam bidang tauhid merujuk pada Imam Abu Hasan Ali al-`Asya`arid an Imam Abu Mansur al-Maturidi. Sementara dalam bidang Fiqh, merujuk pada salah satu Imam Madzhab Yang empat juga, yaitu Imam Syafi`i radhiallaahu `anhu. Dan khusus dalam bidang tasawuf, merujuk pada tasawufnya Imam al-Ghazali tersebut.

Kedatangan para calon mahasiswa yang berasal dari Pulau Lombok dan terdampar di tanah Betawi Jakarta ini, mereka membaur dengan semua lapisan masyarakat. Mereka membawa serta menerapkan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan tradisi atau kebiasaan Nahdlatul Wathan seperti diatas. Hal ini, ternyata memiliki kesamaan dengan tradisi-tradisi ke-Islaman yang ada di tanah Betawi tempat tumbuh dan berkembangnya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. Tradisi-tradisi ke-Islaman dalam Ahlussunnah wal-Jama`ah dan tradisi keberagamaan, seperti tahlilan terhadap seseorang yang meninggal dunia dan selamatan-selamatan lainnya, membaca rawi (kitab al-Berzanji), dan lain-lainnya seperti itu adalah tradisi-tradisi yang biasa dilakukan dalam komunitas Nahdlatul Wathan juga. Oleh sebab itu, dalam penerapan cirri-ciri khas atau identitas Nahdlatul Wathan sendiri, seperti membaca Hizib Nahdlatul Wathan, mengamalkan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, adalah suatu hal yang biasa dan memiliki relevansi dengan kebiasaan masyarakat suku Betawi, suku Jawa, Sunda dan lain-lainnya yang ada di Jakarta. Fenomena seperti ini, kemudian kami asumsikan sebagai salah satu yang melatarbelakangi eksis dan berkembnagnya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, sehingga mendapatkan sambutan dan dukungan luas dari masyarakat.

Disamping kesamaan madzhab, sambutan masyarakat seperti yang telah dijelaskan di atas sebagai latar belakang terhadap kehadiran pesantren Nahdlatul wathan Jakarta, maka dalam konteks ini juga ada sisi lainnya yang penulis nilai tidak kalah pentingnya juga, yaitu terkait dengan keikhlasan para guru-gurunya yang mengajar dan pimpinan pesantren yang sangat bersahaja.

Para pendiri dan secara spesifiknya lagi Ustadz H.Muhammad Suhaidi sebagai pimpinan serta staff dan para guru (ustadz/ustadzah) pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta adalah orang-orang melaksanakan tugas dan pengabdian di pesantren ini tanpa pamrih, yakni penuh dengan nilai-nilai keikhlasan dalam rangka hanya mencari ridha Allah Subhaanahu wa ta`ala semata. Setiap melangkah dalam perjuangan dan pengabdiannya, mereka selalu berpijak pada tujuan Nahdlatul Wathan, yakni “ Li`la-I Kalimatillah wa idzzil Islam wa al-muslimin” ( Menegakkan kalimat/agama Allah Subhaanahu wa ta`ala dan memuliakan Islam serta kaum muslimin). Jadi, sepak terjang dalam melaksanakan aktivitas memperjuangkan Islam melalui pesantren ini, sekaligus melalui organisasi Nahdlatul wathan (NW) umumnya adalah sangat diwarnai oleh nilai-nilai dan semangat perjuangan yang luhur dan tulus, yakni semata-mata mencari ridha Allah subhanahu wa ta`ala. Oleh sebab itu, dapatlah dikatakan, bahwa pada esensinya, pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, tidaklah seperti sebuah pabrik yang dikomirsilkan untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.
Disamping itu pula, secara sepesifik bahwa Pondok pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang dipimpin oleh Ustadz Drs.H.Muhammad Suhaidi adalah seorang pimpinan yang bersahaja. Ia merupakan pimpinan pilihan Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasi Nahdlatul wathan (NW), yang seolah diutus datang untuk merintis dan mengembangkan pesantren ini. Dan memang, ketika masa hayatnya Maulana Syaikh, ia selalu dekat dan sering dipanggil menghadap, lebih-lebih terkait dengan pengembangan pesantren, karena Maulana syaikh meninginkan sekali, suatu saat nanti pesantren Nahdlatul wathan Jakarta ini sebagai kiblat Nahdlatul Wathan (NW).

Drs. H.Muhammad Suhaidi yang kerap dipanggil Ustadz oleh para murid dan jamaahnya adalah pimpinan yang memimpin pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, sejak awal berdirinya sampai saat sekarang ini. Ia melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan law profil, penuh amanah, ikhlas dan istiqamah. Bahkan, ia telah berikrar dengan ikhlas mewaqafkan diri pribadinya untuk perjuangan pesantren ini khususnya dan perjuangan Nahdlatul Wathan (NW) umumnya.
Kepribadiannya yang bersahaja dalam memimpin dan pola hidupnya yang sederhana, ternyata dari sisi ini ia mendapatkan sambutan dan dukungan serat simpati dari berbagai lapisan masyarakat dalam mengembangkan misi pesantren ini. Iapun adalah sosok pemimpin pesantren yang mendapatkan simpati dan wibawa yang tinggi dari para murid dan jamaahnya. Oleh sebab itu, kehadiran dan perkembangan pesantren Nahdlatul wathan Jakarta khususnya dan cabangnya yang sudah terbentuk di wilayah Bekasi (Kampung Gabus) Jawa Barat, juga di Bogor jawa Barat, tidak pernah lepas dari figure sentralnya Ustadz Suhaidi ini.

Dukungan Mahasiswa dan Guru dari Lombok

Selanjutnya, dalam sejarah awal muncul dan berkembangnya pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, selain mendapatkan sambutan dan dukungan dari Maulana Syaikh dan masyarakat Jakarta, juga tidak terlepas dan tidak ketinggalan dukungan yang signifikan yang berasal dari para mahasiswa dan tenaga edukatif atau guru yang berasal dari Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pada awal kedatangannya, para mahasiswa yang berasal dari Lombok NTB ini datang ke Jakarta adalah dalam rangka kuliah melanjutkan studinya ke berbagai perguruan tinggi yang ada di Jakarta, seperti di Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Negeri ( UIN), Institut Agama Islam al-Aqidah (IAIA), Universitas Islam Al-Syafiiyyah (UIA), Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur`an (PTIQ), Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia Arab (LIPIA), dan berbagai perguruan tinggi ternama lainnya di Jakarta. Namun, dalam kenyataannya, kehadiran mereka ternyata tidak hanya kuliah, tapi juga ikut berpartisipasi dalam mebangun dan mengembangkan pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini.
Munculnya dukungan yang berasal dari para mahasiswa yang berasal dari Lombok NTB dalam pengembangan pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini, dilatarbelakangi oleh dorongan emosional yang tinggi dari mereka terhadap perjuangan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) itu sendiri. Selain itu, pada dasarnya kehadiran Nahdlatul Wathan (NW) di ibu kota negara ini adalah merupakan aset tersindiri bagi daerah NTB khususnya, sehingga mereka merasa memiliki. Dan umumnya para mahasiswa ini adalah abituren (alumni) Nahdlatul Wathan juga, yang sekaligus murid-murid dari pendiri Nahdlatul Wathan, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Hjai Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Dalam konteks ini, suatu hal yang patut diapresiasikan kepada para mahasiswa tersebut, bahwa keberadaan mereka ini tidak hanya datang ke Jakarta untuk tujuan kuliah saja, tapi juga ikut serta berpartisipasi berjuang dan mengabdi dalam membangun pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta yang saat itu masih baru mulai melangkah dan berkembang. Mereka mengabdi mencurahkan tenaga dan pikirannya sesuai dengan bakat dan bidang masing-masing. Pada saat itu, ada diantara mereka yang langsung tinggal di asrama pesantren dan ada juga yang pulang pergi.
Dan saat ini, setelah menyelesaikan studi di berbagai perguruan tinggi di Jakarta, ada diantara mereka yang pulang ke daerah masing-masing dan ada juga yang masih setia mengabdi mengembangkan pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta ini.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami