Memaknai Ulang Praktek Poligami Rasulullah

Banyak orang yang keliru memahami praktek poligami Rasulullah Saw, termasuk kaum muslim sendiri. Ada anggapan Rasulullah Saw melakukan poligami dengan tujuan sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang, yakni memenuhi tuntutan biologis atau hanya untuk memuaskan hasrat seksualnya.

Pada umumya memang poligami dilakukan untuk tujuan-tujaun biologis semata. Kekeliruan paham ini perlu diluruskan, terutama karena praktek poligami Rasullulah Saw seringkali dijadikan dalil pembenaran bagi kebolehan poligami dalam masyarakat muslim, lebih lebih di indonesia.

Rasulullah Saw menikah pertama kali dengan Khadijah Binti Khuwailid ketika berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berumur 40 tahun, walaupun demikian pernikahan Rasullulah Saw dengan khadijah sangat diliputi dengan kebahagiaan dan ketenangan, karena cara Rasulullah Saw memperlakukan Khadijah sangat berbeda dengan kebanyakan laki-laki dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah tidak pernah menunjukkan sikap berkuasa mutlak (otoriter) dan paling menentukan (domonan).

Rasulullah tidak memperlakukan khadijah sebagi objek atau bawahan, sebagaimana sikap kebanyakan suami kepada istrinya, akan tetapi Rasulullah memperlakukan Khadijah sebagi teman dialog, dan teman yang sangat dicintai sebagi tempat mencurahkan berbagai masalah, kegalauan, dan keresahan hati, terutama ketika beliau mulai mengemban tugas sebagai Nabi dan Rasul.

Selama menikah dengan Khadijah Rasulullah Saw tidak pernah melakukan poligami, kita semestinta menyadari bahwa perkawinan Rasulullah yang monogami dan penuh kebahagiaan itu berlangsung selama 28 tahun, 17 tahun dijalani pada masa sebelum kerasulan (qabla bi’tsah), dan 11 tahun sesudah itu (ba’da bi’tsah).

Selama 28 tahun Rasulullah menjalani hidup monogami, barulah setelah dua tahun Khadijah wafat dan anak-anak beliau sudah dewasa dan menikah, barulah Rasulullah menjalankan kehidupan poligami dengan 11 istri pada usia 54 tahun.

Pada masa-masa kehidupan Rasullullah penuh dengan perjuangan dalam rangka menancapkan fondasi masyarakat Islam di Madinah sekaligus mengembagkan syiar Islam keseluruh Jazirah Arab.

Jika ditelusuri satu per satu motif perkawinan Nabi dengan istri-istrinya yang berjumlah sebelas itu, yang mengemuka adalah motif dakwah atau kepentingan penyiaran Islam. Bukan karena dorongan untuk memuaskan nafsu belaka, dari sebelas wanita yang dinikahi Rasulullah hanya aisyah lah satu-satunya istri beliau yang masih perawan dan berusia muda, sedangkan yang lain rata-rata telah berumur, punya anak, dan kebanyakan janda dari para sahabat yang terbunuh dalam peperangan membela Islam. Dan dari kesebelas istri tersebut Rasulullah tidak lagi dikarunia anak.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa alasan Rasullulah berpoligami sangat jauh dari tuntutan memenuhi kebutuhan biologis sebagai mana yang selama ini dituduhkan banyak orang.

Dan yang sangat perlu untuk direnungkan berkaitan dengan praktek poligami Nabi, bahwa Nabi melakukan poligami sama sekali tidak didasarkan pada kepentingan biologis atau untuk mendapat keturunan.

Lagi pula Nabi melakukan poligami bukan dalam situasi dan kondisi kehidupan yang normal, melainkan dalam kondisi dan suasana kehidupan yang penuhnaktivitas pengabdian, perjuangan, perang jihad demi menegakkan syiar Islam menuju terbentuknya masyarakat Madani yang didambakan.

Dan yang lebih menarik lagi adalah meskipun Nabi melakukan poligami, tetapi beliau tidak setuju menantunya melakukan hal yang sama.

Nabi tidak mengizinkan menantunya Ali ibn Abi Thalib untuk memadu putrinya, Fatimah az Zahra dengan perempuan lain sebagaimana dijelaskan oleh hadis di atas. Hadis tentang ini banyak akan kita temukan dalam berbagi kitab hadis yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan timidzi, Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah denagn redaksi yang persis sama.

Dari perspektif Ilmu Hadis, itu menunjukkan bahwa hadis tersebut diriwayatkan secara lafzhi. Dalam teks terbaca betapa Nabi Saw mengulangi sampai tiga kali pernyataan ketidak setujuannya terhadap rencana Ali untuk berpoligami. Kalau dipikir-pikir pernyataan Rasulullah yang tidak mengizinkan putrinya di madu sangat logis dan sangat manusiawi.

Ayah siapa yang rela melihat anak perempuanya di madu?

Secara naluriah semua orang tua selalu berharap agar putrinya merupakan istri satu-satunya dari suaminya, dan tentu tidak ingin ada perempuan lain dalam kehidupan suami anaknya. Sebab hanya perkawinan monogami yang menjanjikan tercapainya tujuan perkawinan yang hakiki.

Mungkin juga Nabi tidak mengizinkan menantunya berpoligami karena ketika itu anak-anaknya masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang besar dari kedua orang tuanya. Poligami selalu menyebabkan perhatian seorang ayah terhadap anak-anak nya menjadi terbelah. Setelah menikah lagi seorang suami biasanya akan memfokuskan perhatian dan kasih sayangnya pada istri yang baru. Dalam hal inilah biasanya laki-laki yang berpoligami terjebak dalam perilaku zalim dan tidak adil.

Hadis Nabi tersebut boleh jadi merupakan refleksi betapa beratnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh suami yang berpoligami dan betapa sulitnya istri menerima perlakuan poligami. Mungkin hanya seorang Nabi yang mampu melakukan poligami dengan ketentuan-ketentuan sebagaiman digariskan syariah.

Wallahu A’lam.

Ditulis Oleh Abdul Malik Salim Rahmatullah, Sekretaris Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan Mesir, Mahasiswa Fakultas Syariah da Hukum Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami