Boleh gak si Mayat dibedah dalam Islam?

Oleh : Muhammad Irfan ( Mahasiswa Al Aqidah Al Hasyimiyyah Jakarta Prodi PAI, Semester VII)

Pengertiannya

Perkataan bedah mayat, dimaksudkan oleh Dokter Arab dengan istilah تَشْرِيْحُ جُشَثِ الْمَوْتَى Selanjutnya, dapat di rumuskan definisinya sebagai berikut:
Bedah mayat adalah suatu upaya team dokter ahli untuk membedah mayat, karena dilandasi oleh suatu maksud atau kepentingan-kepentingan tertentu.
Motivasi Pembedahan Mayat.
Ada beberapa motivasi yang melandasi, sehingga diadakan pembedahan mayat, anatara lain:
Untuk Menyelamatkan Janin yang Masih Hidup dalam Rahim Mayat
Pada prinsipnya, ajaran islam memberikan tuntunan kepada umatnya agar selalu berijtihad dalam suatu hal yang tidak ada nashnya, dengan memberikan pedoman dasar dalam Al Qur’an yang berbunyi :

وَجَاهِدُوْا فِي اللَّهِ حَقَ جِهَادِهِ, هُوَ اجْتَبَكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِيْنِ مِنْ حَرَجٍ … (الحج٧٨)
Artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan dia sekali-sekali tidak menjadikan untuk kesempitan dalam agama…

Untuk mengatasi suatu kesulitan yang dialami oleh manusia harus menggunakan akal pikiran yang disebut ijtihad dalam Islam; yang hasilnya selalu diperuntukkan kepada kemashlahatan umat, dengan ketentuan bahwa kemashlahatan umum lebih diutamakan daripada kemaslahatan perorangan. Begitu juga orang mati.
Untuk Mengeluarkan Benda yang Berharga dari mayat Beberapa kasus yang sering terjadi di masyarakat, yang dapat mempengaruhi perkembangan hokum Islam; antara lain seseorang yang menelan permata orang lain, sehingga mengakibatkan ia meninggal.

Selanjutnya, pemilik barang tersbut menuntut agar permata itu dapat dikembalikan kepadanya. Tetapi tidak ada acara lain kecuali dengan membedah mayat itu untuk mengeluarkan benda tersebut.
Untuk Kepentingan Penegakan Hukum
Dalam suatu negara, diperlukan tegaknya hokum yang seadil-adilnya untuk digunakan mengatur umat. Dalam hal ini, penegak hukumlah yang lebih bertanggung jawab untuk menegakkan hukum dengan disertakan seluru warga negara tersebut.
Tentang penegak hukum yang adil menurut Islam, tentunya diserahkan kepada ahlinya, agar ia dapat menerapkannya dengan cara adil dan teratur, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَنَتِ إلَى أَهْلِهَا وَاِذَا حَكُمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ …(النساء٥٨)
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh) kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.

Untuk Keperluan Penelitian IlmuKedokteran
Islam sangat mementingkan perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang kehidupan. Oleh karena itu, kita tidak heran bila para Sarjana Muslim di abad pertengahan telah menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan dengan melalui karya-karyanya di bidang Filsafat, Fisika, Biologi, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kesenian, Matematika, Astronomi dan sebagainya.

Hukumnya

Ketentuan Hukum tentang Pembedahan mayat untuk Menyelamatkan Janin
Dibolehkan dalam Islam membedah mayat yang di dalam rahimnya terdapat janin yang masih hidup untuk menyelamatkannya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa wajib hukumnya membedah mayat bila mengandung janin yang masih hidup. Karena janin tersebut tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya, maka orang hiduplah yang berkewajiban untuk menolongnya, meskipun dengan melalui bedah mayat.
Tentang kewajiban membedah mayat untuk menyelamatkan janin yang ada dalam rahimnya, diterangkan oleh Abu Ishaaq Asy-Syiraazy dengan mengatakan:
وَاِنْ مَاتَتْ اِمْرَأَةٌ وَفِى جَوْفِهَا جَنِيْنٌ حَتَّي شُقَّ جَوْفُهَا لِأَنَّهُ اِسْتِبْقَاءُ حَيٍّ بِإِتْلَافِ جُزْءٍ مِنَ الْمَيِّتِ.
Artinya: Dan apabila ada seorang perempuan yang meninggal, padahal dalam perutnya terdapat janin yang masih hidup, maka (wajib) dibedah perutnya.

Karena cara mempertahankan kehidupan (janin ini) ia harus dipisahkan dari mayat (ibunya).Ketentuan Hukum tentang Pembedahan Mayat untuk Mengeluarkan Benda yang Berharga dari Perutnya

Kalau pemilik barang mengajukan tuntutannya agar barangnya, yang telah ditelan mayat itu harus dikembalikan kepadanya, maka mayat itu wajib dibedah oleh team dokter ahli. Karena hal itu berkaitan dengan hak milik oaring lain, yang dapat mengganggu mayat di alam kubur, sebab menjadi pertanyaan yang harus dijawabnya di hadpan Malaikat munkar dan Nakir.

Ketentuan hukum Islam tentang pembedahan mayat yang dalam perutnya terdapat benda berharga, diterangkan oleh Abu Ishaaq Asy-Syiraazy dengan mengatakan:
وَإِنْ بَلَعَ الْمَيِّتُ جَوْهَرَةً لِغَيْرِهِ وَمَاتَ وَطَالَبَ صَاحِبُهَا شُقَّ جَوْفُهَا وَرُدَّتِ الْجَوْهَرَةُ وَإِنْ كَانَتِ الْجَوْهَرَةُ لَهُ فَفِيْهِ وَجْهَانِ أَحَدُ هُمَا يُشَقُّ لِأَنَّهَا صَارَتْ لِلْوَرَثَةِ فَهِيَ كَجَوْهَرَةِ الْأَجْنَبِيِّ وَالثَّانِى لَايَجِبُ لِأَنَّهُ اِسْتَهْلَكَهَا فِى حَيَاتِهِ فَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا حَقُّ الْوَرَثَةِ.

Artinya:
Dan apabila si mayat telah menelan batu permata orang lain (yang menyebabkan) kematian, lalu pemilik (barang itu) menuntut agar dikembalikannya, maka (wajib) membedah perutnya, lalu di kembalikan batu permata itu. Dan apabila batu permata itu miliknya sendiri, maka terjadi dua macam ketetapan hukum:

1. Diwajibkan membedahnya, karena barang itu menjadi milik pewarisnya. Maka disamakan keduanya dengan batu permata orang lain.

2. Tidak waib karenang barang itu dianggap sudah hancur (habis) di masa hidupnya, maka tidak ada hubungannya dengan hak milik pewarisnya.
Dari keterangan di atas, maka dapat diartikan kesimpulan bahwa wajib hukumnya membedah mayat bila dalam perutnya terdapat batu permata orang lain, dan tidak diwajibkan bila batu permata atas nam miliknya sendiri.

Ketentuan Hukum Tentang Pembedahan Mayat untuk Kepentingan Penegakkan Hukum Menjatuhkan sangsi hukum terhadap si terdakwa, tidak boleh dihalang-halangi oleh siapapun dan alasan apapun; misalnya, pelaku terhadap si korban tidak diketahui, sedangkan tidak ada tanda-tanda yang dapat dijadikan bukti. Kalau hal itu sulit di buktikan dengan melalui penyelidikan diluar badan mayat, maka dibolehkan dalam Islam untuk membedah mayat sebagai wahana untuk mencari data-data yang diperlukan untuk pengusutan lebih lanjut.

Untuk melaksanakan masalah tersebut di atas, maka seharusnya penegak hukum bekerja sama dengan dokter ahli bedah yang dapat dipercaya kejujurannya, agar mayat tersebut mendapatkan visum et repertum, sehingga dari hasil penyelidikan itu dapat memberi keterangan kepada penegak hukum untuk mengetahui pelaku tindak pidana.

Ketentuan Hukum tentang Pembedahan Mayat untuk Keperluan Penelitian Ilmu Kedokteran Wajib kifayah bagi orang muslim mempelajari ilmu-ilmu umum, antara lain ilmu Kedokteran, Biologi dan Fisika, baik dengan melalui literatur, maupun dengan praktikum dan penelitian, tersebut bedah mayat sebagai sasarannya.
Kalua memang dibutuhkan mayat sebagai sarana penelitian untuk pengembangan Ilmu Kedokteran, maka dalam Islam dibolehkan. Karena pengembangan Ilmu Kedokteran, bertujuan untuk mensejahterakan umat manusia, sedangkan misi Islam sejalan dengan tujuan tersebut.

Kebolehan membedah mayat dalam Islam, dilandasi oleh alasan bahwa memperbaiki nasib orang hidup lebih diutamakan daripada kepentingan orang yang sudah mati.

LAINNYA

- Advertisment -

Khutbah
Khutbah Terbaru & Terlengkap

Terpopuler

#1

#2

#3

#4

#5

Kolom
Kirim Tulisan Anda Ke Kami